Kenangan Kebaktian Wilayah, Yogyakarta 2008

ryan-mama-prameks-23.JPG
Berangkat dari Solo naik Sepur Prameks

mama-veronika-23.JPG
Bersama Zus Veronica saat rehat kebaktian

mama-yayah-wilayah2008-23.JPG
Berdua tatkala rehat kebaktian

————————————————————————————————————–
Kenangan dari Kebaktian Wilayah Saksi-Saksi Yehuwa di Yogyakarta, Sabtu dan Minggu (23-24/2/2008) lalu. Baru sempat posting sekarang, setelah dua bulan…

Jalan Lurus, Padahal Jalan Kematian…

MINGGU (27/4/2008) pagi. Meski harus bangun sebelum pukul 06.00 WIB –-karena pukul 07.00 mengikuti perhimpunan umum Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia Sidang Wonokromo Surabaya—-  saya tetap merasa sukacita. Tak ada rasa malas, atau capai.

Acara rohani di Ruko Mangga Dua Blok B2 Nomor 3-5, Jl Jagir Wonokromo, Surabaya, itu merupakan perhimpunan rutin setiap Minggu pagi. Kami mengikuti dua corak  perhimpunan, yaitu khotbah umum dan pelajaran Majalah Menara Pengawal.

Tema khotbah umum adalah Bagaimana Seharusnya Kita Melayani Yehuwa dengan Benar. Saudara Jimmy Methuselah, Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia Sidang Wonokromo Surabaya, menyampaikan khotbah tersebut selama sekitar 30 menit.

Saudara Methuselah mengingatkan kami, para peserta perhimpunan, tentang poin-poin penting agar kami bisa melayani Allah  Yehuwa   secara benar. Tentu saja, selama berkhotbah, seperti biasa dia terus mengutip ayat-ayat Alkitab atau Kitab Suci; dan kami pun bersama-sama membuka ayat-ayat yang dibaca Saudara Methuselah.

“Dalam upaya melayani Yehuwa dengan benar, kita harus berhati-hati. Misalnya, jangan terkecoh oleh jalan yang terlihat lurus, padahal jalan yang tampak lurus tersebut ternyata adalah jalan kematian,” tegas Saudara Methuselah, yang mengutip Amsal 14 ayat 12.

Ayat 12 dalam Kitab Amsal Pasal 14 itu hanya salah satu dari sekian banyak ayat yang dibacakan Saudara Methuselah untuk menjelaskan tentang bagaimana umat-umat Yehuwa bisa melayani Dia dengan benar. Ayat lain, di antaranya, dari Kitab I Tawarikh 28 ayat 9, yang berisi nasihat Raja Daud kepada putranya, Salomo, agar melayani Allah dengan sepenuh hati.

Dalam konteks melayani Yehuwa itu pula Saudara Methuselah mengutip juga ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan berbagai contoh keteladanan Yesus Kristus. Misalnya, Yesus adaah figur yang mengutamakan keadilbenaran. Juga, penuh kasih yang murni dan tulus kepada sesama, seperti kesaksian pada Injil Matius 22 ayat 39.

Singkat kata, cara melayani Allah Yehuwa secara benar adalah secara sepenuh hati dengan motivasi yang benar seraya melihat teladan Yesus. “Dan kita melakukannya dengan tekun,” pungkas Saudara Methuselah.

Bersyukur kepada Yehuwa

SAYA senantiasa bersyukur, setiap saat, lantaran diberi Allah Yehuwa kehidupan yang baik sekaligus menyenangkan. Bagaimana tak menyenangkan, jika pagi dan sore hari, misalnya, untuk mandi saya tak perlu bersusah-payah mencari maupun menimba air. Makan pun tak kesulitan.

Santapan rohani, di samping makanan jasmani, juga melimpah. Mulai dari Majalah The Watch Tower alias Menara Pengawal, Sedarlah!, sampai publikasi-publikasi tertulis lain semisal buku setebal 192 halaman berjudul Mari Jadilah Pengikut-Ku.
watch_towerhcp-50.GIF
Betapa menyenangkan, karena setiap hari –-meski saya ‘berumah’ di kantor— saya leluasa melakukan kegiatan-kegiatan rohani. Mulai dari membaca Alkitab, menikmati aneka jenis santapan rohani yang disediakan Organisasi, sampai mengisi blog bernapaskan rohani milik saya ini.

Alangkah menyenangkan, lantaran setiap Kamis saya bisa pulang dari Surabaya ke Solo. Libur kerja sekaligus menemani istri dan anak mengikuti pembahasan Pelajaran Buku Sidang (PBS) Wahyu – Klimaksnya yang Menakjubkan! bersama Saksi-Saksi Yehuwa dan para peminat.

Benar-benar menyenangkan, sebab setiap Minggu pagi saya bisa mengikuti perhimpunan secara tetap-tentu di Surabaya. Selain itu, saya pun dapat mengikuti perhimpunan-perhimpunan berskala besar seperti Kebaktian Istimewa di Solo.

kebaktian-istimewa-solo-23.JPG

Tapi, memang, tak ada yang sempurna di dunia ini [yang terjadi karena ketidaktaatan manusia pertama, Adam, kepada Yehuwa ribuan tahun silam (Kejadian 3:17-19)]. Saya belum bisa mengikuti Sekolah Teokratis lantaran jadwal pekerjaan duniawi yang masih ruwet.

Saya masih dan sedang mengupayakan supaya bisa segera mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga nanti dapat mengikuti Sekolah Pelayanan Teokratis, menyusul istri saya yang sudah mulai resmi sekolah di Solo sejak Selasa, 15 April 2008 lalu. Tentu saja seraya saya senantiasa terus bersyukur, dan berdoa….