Jalan Lurus, Padahal Jalan Kematian…

MINGGU (27/4/2008) pagi. Meski harus bangun sebelum pukul 06.00 WIB –-karena pukul 07.00 mengikuti perhimpunan umum Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia Sidang Wonokromo Surabaya—-  saya tetap merasa sukacita. Tak ada rasa malas, atau capai.

Acara rohani di Ruko Mangga Dua Blok B2 Nomor 3-5, Jl Jagir Wonokromo, Surabaya, itu merupakan perhimpunan rutin setiap Minggu pagi. Kami mengikuti dua corak  perhimpunan, yaitu khotbah umum dan pelajaran Majalah Menara Pengawal.

Tema khotbah umum adalah Bagaimana Seharusnya Kita Melayani Yehuwa dengan Benar. Saudara Jimmy Methuselah, Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia Sidang Wonokromo Surabaya, menyampaikan khotbah tersebut selama sekitar 30 menit.

Saudara Methuselah mengingatkan kami, para peserta perhimpunan, tentang poin-poin penting agar kami bisa melayani Allah  Yehuwa   secara benar. Tentu saja, selama berkhotbah, seperti biasa dia terus mengutip ayat-ayat Alkitab atau Kitab Suci; dan kami pun bersama-sama membuka ayat-ayat yang dibaca Saudara Methuselah.

“Dalam upaya melayani Yehuwa dengan benar, kita harus berhati-hati. Misalnya, jangan terkecoh oleh jalan yang terlihat lurus, padahal jalan yang tampak lurus tersebut ternyata adalah jalan kematian,” tegas Saudara Methuselah, yang mengutip Amsal 14 ayat 12.

Ayat 12 dalam Kitab Amsal Pasal 14 itu hanya salah satu dari sekian banyak ayat yang dibacakan Saudara Methuselah untuk menjelaskan tentang bagaimana umat-umat Yehuwa bisa melayani Dia dengan benar. Ayat lain, di antaranya, dari Kitab I Tawarikh 28 ayat 9, yang berisi nasihat Raja Daud kepada putranya, Salomo, agar melayani Allah dengan sepenuh hati.

Dalam konteks melayani Yehuwa itu pula Saudara Methuselah mengutip juga ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan berbagai contoh keteladanan Yesus Kristus. Misalnya, Yesus adaah figur yang mengutamakan keadilbenaran. Juga, penuh kasih yang murni dan tulus kepada sesama, seperti kesaksian pada Injil Matius 22 ayat 39.

Singkat kata, cara melayani Allah Yehuwa secara benar adalah secara sepenuh hati dengan motivasi yang benar seraya melihat teladan Yesus. “Dan kita melakukannya dengan tekun,” pungkas Saudara Methuselah.

No comments yet. Be the first.

Leave a reply