4
Mei
2008

Tali Rangkap Tiga

TALI rangkap tiga tidak mudah dipatahkan. Begitulah salah satu bagian ayat Alkitab (Kitab Pengkotbah Pasal 4 ayat 12)  yang dibacakan saat kami mengikuti pelajaran Menara Pengawal pada perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Wonokromo Surabaya, Minggu (4/5) pagi.

Ayat Alkitab ini dipilih untuk menguatkan pasangan suami-istri Kristen agar terus mempertahankan pernikahan mereka. Perumpamaan ‘tiga tali’ menunjuk pada seorang suami (satu tali) dan istri (satu tali lain) serta Allah Yehuwa (satu tali yang lain lagi).

Penjelasannya adalah, bila penyucian nama Yehuwa menjadi perhatian suami maupun istri, maka mereka selain terpaut satu sama lain (sebagai suami-istri) juga sekaligus terpaut dengan Yehuwa. Maka, bak tiga tali, pernikahan mereka akan menjadi kuat tatkala menghadapi tekanan-tekanan dunia yang fasik

menara-pelajaran-25-25-sip.jpg

Pelajaran  Menara Pengawal   dipimpin salah seorang Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Wonokromo, Saudara Jimmy Methuselah. Dari salah satu contoh ayat dalam Menara Pengawal yang saya kutip di atas, tampak bahwa tema pelajaran kali ini adalah tentang pernikahan atau perkawinan, dengan judul ‘Dapatkan Sukacita dalam Perkawinan Saudara’.

Melalui pelajaran selama 60 menit, Saudara Methuselah yang menyampaikan materi bagian dua Menara Pengawal edisi 15 Maret 2008 (untuk jadwal pelajaran 28 April-4 Mei 2008) antara lain mengingatkan bahwa pernikahan bersifat suci. Ikrar pernikahan suci dalam pandangan Yehuwa maupun manusia; bagi manusia, ikrar pernikahan yang diucapkan pada hari pernikahan itu serius, dan mendatangkan tanggung jawab.

Menara Pengawal  juga menyebutkan bahwa orang Kristen pasti bisa mendapatkan sukacita dalam perkawinan. “Tak terhitung banyaknya Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia telah membuktikan bahwa hal itu bisa tercapai,” tegas Saudara Methuselah.

Tentu saja ada beberapa syarat agar kita bisa memperoleh sukacita dalam pernikahan, alias supaya perkawinan kita berhasil. Sesuai ajaran Alitab, suami-istri harus bersifat lentuk, memberikan perhatian yang seimbang, berkomunikasi secara baik, mendahulukan keloyalan kepada teman hidup daripada kepada orangtua dan kerabat, serta melaksanakan pelajaran keluarga secara teratur dan melakukan doa bersama.



Leave a Reply