Navigation | Tidak Merayakan Ulang Tahun

Tidak Merayakan Ulang Tahun

ultah13.JPG

SEJAK 15 Maret 2008 lalu, setiap Sabtu pagi sampai siang saya ditugasi kantor mengikuti Fundamental Leadership Program yang diselenggarakan Dale Carnegie Course, di Hotel Elmi Surabaya. Kegiatan ini dijadwalkan berakhir 7 Juni 2008, setelah para peserta menjalani 12 kali sesi/pertemuan.  Kini saya sudah melalui delapan sesi.

Satu hal yang membuat saya kikuk saat menjalani pelatihan kepemimpinan ini adalah kebiasaan para trainer mengumumkan dan memberi selamat kepada peserta yang kebetulan berulang tahun. Pasalnya, saya tidak merayakan ulang tahun, baik ulang tahun saya sendiri maupun ulang tahun orang lain.

Mengapa demikian? Sebagai orang yang belajar Alkitab kepada umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa, saya berprinsip bahwa peringatan ulang tahun bukan kebiasaan berdasarkan Alkitab. Karena itulah saya –-sebagaimana Saksi-Saksi Yehuwa di seluas dunia— tidak memperingati atau merayakan hari ulang tahun.

Dasar prinsip itu adalah dua contoh perayaan hari ulang tahun yang tidak diperkenan Yehuwa (Allah), yang disebutkan dalam Alkitab. Pertama, peristiwa mengerikan dalam Kitab Kejadian 40 ayat 20-22 . “Ternyata hari yang ketiga adalah hari lahir Firaun, ia mengadakan pesta…. Maka dikembalikannya pengawas juru minuman pada kedudukannya sebagai juru minuman…. Tetapi pengawas juru roti digantungnya.”

Kedua, kejadian mengerikan dalam Kitab Matius 14 ayat 6-10. “Sewaktu hari lahir Herodes sedang dirayakan, anak perempuan Herodias menari pada kesempatan itu dan begitu menyenangkan hati Herodes sehingga ia berjanji dengan sumpah akan memberikan kepada dia apapun yang dimintanya. Lalu dia, atas petunjuk ibunya, mengatakan, ‘Berikan kepadaku di sini di atas sebuah pinggan, kepala Yohanes Pembaptis.’…. Ia mengutus orang dan menyuruh memancung kepala Yohanes di penjara.” Yohanes Pembaptis adalah tokoh yang membaptis Yesus.

Buku Bertukar Pikiran mengenai Ayat-ayat Alkitab terbitan Saksi-Saksi Yehuwa menjelaskan, segala sesuatu dalam Alkitab ditulis dengan alasan tertentu. Hal tersebut sesuai Kitab 2 Timotius 3 ayat 16 dan 17. Maka, dari dua contoh peristiwa mengerikan terkait perayaan ulang tahun seperti saya kutip di atas itu dapat disimpulkan bahwa Firman Allah memberikan laporan yang tidak menyenangkan tentang perayaan-perayaan ulang tahun. Maka, Saksi-Saksi Yehuwa memperhatikan hal tersebut, dan tak merayakan hari ulang tahun….

Kembali ke soal Fundamental Leadership Program dari The Dale Carnegie Course, yang membuat kikuk setiap kali ada peserta yang berulang tahun. Sejak awal pelatihan, 15 Maret 2008 lalu, sudah ada beberapa peserta yang kebetulan ulang tahun saat pelatihan, dan pihak trainer selalu mengumumkan nama peserta tersebut kemudian mengajak para peserta lain untuk bergantian menyalami seraya mengucapkan selamat ulang tahun.

Paling akhir, saat sesi delapan, Sabtu (17/5/2008) lalu, ada seorang peserta yang berulangtahun, yaitu Dikdik Gunantara (Production Manager PT Supra Alumunium Industri). Selain itu, seorang peserta lain akan ulang tahun sehari kemudian, Minggu (18/5/2008), yakni Eko Purnomo (ARFM PT Mandala Multi Finance).

Dua peserta itu didaulat Lead Trainer Dale Carnegie Course, Esti Hidayat Joseph, dan kawan-kawan untuk maju ke depan kelas. Saat-saat beginilah yang membuat saya benar-benar kikuk. Namun, karena saya telah berprinsip tidak merayakan ulang tahun siapapun –-termasuk tak memberi ucapan selamat— maka saya mencari cara supaya tak melanggar prinsip yang saya anut berdasar Alkitab itu.

Saat para trainer maupun peserta-peserta pelatihan menyalami Dikdik dan Agung seraya mengucapkan selamat ulang tahun, saya menyelinap keluar ruangan di Hotel Elmi Surabaya tersebut. Saya berjalan ke toilet, kencing sekaligus menghindari perbuatan yang melanggar prinsip Alkitab.

Sesudah melihat dari luar bahwa acara salam-salaman telah kelar, saya masuk kembali ke ruangan, melanjutkan mengikuti pelatihan sesi delapan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 12.00 WIB. Jadi,  begitulah cara yang saya pilih untuk menghindarkan saya dari perbuatan yang tak disukai Allah Yehuwa. Harap maklum.

Filed by juniantosetyadi at Mei 23rd, 2008 under Sehari-hari

Brarti anda seharusnya ndak merayakan natal ya?
Soalnya natal kan peristiwa lahirnya Yesus ke dunia. Dan perayaan itu (katanya) tidak sesuai dengan Alkitab yang anda tafsirkan.

Komentar oleh liemz — Mei 26, 2008 @ 5:14 am

>> liemz : Saksi-Saksi Yehuwa memang tidak merayakan natal. Karena, tidak ada catatan dalam Alkitab yang menyebut tanggal lahir Yesus. Selain itu, ada juga beberapa alasan yang membuat kami tak merayakan natal, yang nanti suatu ketika akan saya jelaskan lewat posting tersendiri.

Komentar oleh jun — Mei 26, 2008 @ 1:41 pm

Sdr. Jun, saya ingin diskusikan sesuatu dengan Sdr namun tidak bisa menemukan alamat email Sdr.
Bisakah Sdr mengirim email kepada saya sehingga kita bisa berkomunkiasi.

Terima kasih sebelumnya.

ss-IN

Komentar oleh saksisaksi — Juni 4, 2008 @ 3:25 pm

sy ikut bangga dgn anda dlm memegang prinsip yg anda yakini, trus lakukan itu bila memang hal itu sesuai dgn dasar2 alkitab…sukes & maju terus !!!!!!

Komentar oleh ben — Oktober 25, 2008 @ 3:46 pm

shalom…
kpd saudara jun, senang mendengar ada org yang mau hidup dekat dgn Allah. Berusaha dengan cara yang anda percayai. Tanpa mengurangi rasa hormat kpd anda yang menganut ajaran yang anda percayai. saya ingin sedikit menyampaikan ttg perayaan ulang tahun. kalo herodes dan firaun sedang merayakan lalu terjadi musibah yang mengerikan. kalo di lihat lagi, herodes dan firaun adalah bukan org yang hidup dekat ataupun beribadah kepada Allah. sedangkan saya lihat anda org yang takut akan Allah dan rindu melakukan segalanya yang menyenangkan hati Allah anda. Sangat berbeda sekali anda dengan herodes dan firaun. apakah musibah akan datang kepada anda bila anda merayakan ucapan trima kasih kpd Allah atas umur yang diberikan? maksud saya apa pernah saudara merayakan lalu mendapat musibah? saya sering melihat org-org sekitar yang bukan ber-gereja seperti anda dan saya dan yang masih merayakan ulang tahun, juga mengalami musibah pembunuhan, pencurian tapi ada juga yang hidup sejahtera sampai sekarang, kaya, keuangan cukup, umur panjang. Apakah tidak merayakan ulang tahun dapat menjamin seseorg pasti tidak mendapat musibah?. maaf saya tidak bermaksud mengajari anda, saya hanya mengutarakan pertanyaan yang logis saja.Saya berdoa supaya Allah yang menciptakan langit dan bumi menuntun anda untuk semakin dekat dengan Allah. Anda semakin mengalami hidup yang nyata bersama Allah yang punya kuasa (kuasa mencipta, kuasa menyembuhkan orang sakit, kuasa damai sejahtera, kuasa iman) Alami kuasa Allah yang sanggup memulihkan hati terluka, kuasa menyembuhkan sakit kanker atau yang parah, kuasa yang membebaskan dari lilitan hutang,kuasa hikmat yang menuntun pd kebenaran sejati.
Tuhan Yesus memberkati saudara.
-Y-

Komentar oleh -Y- — Mei 7, 2009 @ 3:01 pm

Om Jun, saya seorang Saksi Yehuwa :) dan saya memahami bahwa yang Om maksud dalam artikel di atas bukan bahwa seorang yang merayakan ulang tahun akan langsung dapat celaka. Om tentu memaksudkan bahwa Alkitab menunjukkan bahwa perayaan ulang tahun asal-usulnya kafir. Dengan kata lain, umat Allah jaman Alkitab tidak merayakannya. Maka, kita memilih untuk tidak merayakannya juga dewasa ini. Namun, sebagaimana kita ingin orang lain menghormati pilihan kita, kita pun berupaya menghormati pilihan orang lain.

Seraya terus menghadiri Sekolah Pelayanan Teokratis dari minggu ke minggu, kita pasti akan semakin terampil menjelaskan pokok Alkitab. Dan, terkait hari lahir, cara terbaik mensyukuri kelahiran kita adalah dengan membaktikan hidup kita pada Bapak kita, Yehuwa. Saya tidak sabar menunggu Om menulis artikel tentang baptisan Om sendiri :) Saya sendiri sedang mengupayakan sebuah kemajuan, ikut pelatihan bahasa isyarat, biar bisa mengajar Alkitab bagi kaum tuna rungu. Kita saling mendoakan ya Om… :)

Komentar oleh Esti — Mei 11, 2009 @ 8:51 pm

Maaf, saya agak heran dengan tidak merayakan ulang tahun. Sehingga bertanya-tanya. Apakah akibat yang didapatkan jika merayakan ulang tahun? Setahu saya, orang2 ateis tidak keberatan merayakan ulang tahun karena perayaan itu tidak melibatkan agama atau Tuhan. Ulang tahun hanyalah merupakan standar ukuran seperti umur 17 untuk mendapatkan KTP.
Cerita tentang perayaan yang tahun Firaun, Tuhan terlibat dengan memberi Yusuf tafsiran dari mimpi juru roti dan juru minuman. Kalau bukan Tuhan yang memberi mimpi kepada dua orang itu, kenapa Tuhan memberi Yusuf penafsirannya? Bukankah itu berarti Tuhan ikut campur?
Kenapa Tuhan juga tidak menyelamatkan Yohanes Pembaptis dari penjara, tapi Paulus dan Petrus dibebaskan Tuhan dari penjara?Seandainya Yohanes Pembaptis dipenggal pada waktu pesta perkawinan, apakah berarti pesta perkawinan itu tidak baik dilakukan?
Saya mencoba membaca Alkitab dengan “kerelaan hati” seperti pada orang Berea di Kis 17, yang sewaktu Paulus datang, mereka menyelidiki apakah ajarannya benar.

Komentar oleh Reginald — Juni 15, 2009 @ 12:34 am

kitab Kejadian 40 ayat 20-22 ingin menyampaikan kebusukan yg dilakukan oleh Firaun

Kitab Matius 14 ayat 6-10 ingin menyampaikan bagaimana kisah kematian seorang Yohanes Pembabtis

Ke-2 masalah diatas tidak mengatakan bahwa perayaan ulang tahun dianggap sesuatu yang tidak baik di mata Tuhan.
Menurut saia alangkah baiknya kita merayakan hari ulang tahun bukan dengan berfoya-foya, yakni cukup dengan perayaan kecil yg menyatakan syukur!

Komentar oleh fred — Juni 22, 2009 @ 12:51 am

Saya kembali bertanya-tanya lagi setelah merenung-renung.

Kalau perayaan ulang tahun disebut dari kafir, maka Tuhan menyambut dan merayakan kelahiran Putranya, dan ini dilakukan terus oleh pengikut, saksi dan penyembah Kristus (=Kristen) hingga sekarang. Boleh saja orang kafir merayakan ulang tahun, tapi saya pikir orang tidak akan menjadi kafir dengan merayakan ulang tahunnya.

Anda dan saya memakai cincin kawin (kalau sudah menikah), yang asal muasalnya dari simbol dewa Ra (dewa matahari) bangsa Mesir di jaman Firaun. Tapi saya merasa tidak menjadi kafir.

Anda dan saya juga memakai baju berkancing, yang pada waktu jaman Firaun, baju penyembahan mereka memakai kancing bundar simbol dewa Ra dan untuk mengancing baju. Tapi saya merasa tidak menjadi kafir.

Anda dan saya memakai kalender Gregorian dengan nama-nama dewa (Mars/Maret - dewa perang, dst). Tapi saya merasa tidak menjadi kafir.

Saya pikir semua ini menyangkut masalah “hati”, bukan dengan benda atau perayaan. Bisa saja saya tidak merayakan perayaan kafir dan saya juga tidak memakai benda-benda dari penyembahan kafir, tapi kalau hati saya misalnya menyembah kepada uang, atau kepada materi, atau mungkin menyembah dan tunduk kepada pimpinan organisasi gereja/keagamaannya, maka itu adalah pengkafiran hati.

Sehingga ada pertanyaan lagi, apa batasan hal-hal yang dari kafir dan yang bukan?

Atau, siapa yang menentukan sesuatu itu kafir atau bukan?

Komentar oleh Reginald — Juni 24, 2009 @ 10:13 pm

Kafir yang saya maksud dalam komentar saya sebelumnya memaksudkan bangsa2 non-Israel atau Yahudi dahulu. Saya setuju bahwa menggunakan cincin kawin, kancing, atau kalender tidak menjadikan seseorang kafir (dalam konotasi negatif).

Saya juga sependapat bahwa salah satu hal terpenting adalah mengikuti hati nurani, walau bukan patokan terandal (Yeremia 17:9). Karena alasan hati nurani pulalah, kami tidak merayakan hut.

Perlu diketahui bahwa yang menjadi keberatan bagi hati nurani kami bukanlah kumpul2, potong kue, makan2, dan pemberian kado2nya melainkan tradisinya. Tradisi yang saya maksud di sini adalah merasa harus merayakan sesuatu pada saat tertentu, padahal tidak diharuskan Alkitab (asal-usulnya kafir).

Saksi-Saksi Yehuwa kumpul2, makan2, dan tukar kado juga. Belum lama ini pun saya diundang makan2 di rumah seorang rekan seiman. Bukan untuk merayakan apa2, tuan rumah semata2 ingin beramah-tamah dan sekaligus menjadi kesempatan untuk bergaul dengan rekan2 seiman.

Dalam waktu dekat saya juga akan tukar kado dengan seorang teman yang akan pindah tempat tinggal, bukan karena merasa harus tapi karena sama2 ingin.

Kami tetap menghargai kehidupan dan tidak kehilangan sukacita karena tidak merayakan hut.

Komentar oleh Esti — Juni 25, 2009 @ 8:55 am

Terimakasih, Ibu Esti.

Tapi pertanyaan masih tidak terjawab.

Salam,
Reginald.

Komentar oleh Reginald — Juni 26, 2009 @ 1:17 am

Tinggalkan komentar

penyu