Tantangan Serius dan Proyek Besar : Membesarkan Anak

MEMBESARKAN anak merupakan tantangan yang serius bagi para orangtua Kristen. Mengapa demikian? Karena, orang-orang Kristen sejati pun tidak kebal terhadap dampak buruk dari ‘masa krisis’  sekarang ini.

Begitulah salah satu hal penting yang terdapat dalam Majalah Menara Pengawal, yang kami pelajari saat perhimpunan, Minggu (22/6/2008) pagi, di Perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Wonokromo Surabaya. Kegiatan rohani rutin setiap pekan ini diikuti 62 orang hadirin.

Dipimpin oleh salah seorang penatua kami, Saudara Soeharto, pelajaran Menara Pengawal kali ini melanjutkan pelajaran pekan sebelumnya. Majalah yang kami pakai sama dengan pekan lalu maupun dua pekan lalu, yaitu edisi 15 April 2008. Kami belajar mulai halaman 16, pada Judul ‘Soal Menikah dan Mempunyai Anak pada Zaman Akhir ini’.

Kembali ke awal tulisan di atas, mempunyai anak pada zaman akhir memang memerupakan tantangan besar bagi orangtua-orangtua Kristen. Mereka harus terus bertempur melawan pengaruh “sistem dunia ini” yang bisa berakibat fatal atas anak-anak mereka.

“Dan, mereka tidak selalu menang dalam pertempuran itu,” tegas Saudara Hendry Sidarta, yang membacakan Menara Pengawal di samping Saudara Soeharto.

Pada bagian lain Menara Pengawal juga menyebutkan bahwa membesarkan anak membutuhkan kerelaan berkorban selama bertahun-tahun. “Ini merupakan proyek besar yang menuntut banyak waktu dan energi” papar Saudara Sidarta.

Diingatkan, meskipun tak mudah membesarkan anak namun para orangtua Kristen harus senantiasa sadar bahwa soal mempunyai anak ini merupakan tanggung jawab dan hak istimewa pemberian Allah Yehuwa. Karena Yehuwalah yang memberi manusia kesanggupan untuk mempunyai anak, maka orangtua perlu memandang bayi yang baru lahir sebagai “milik pusaka dari Yehuwa”.

Hal tersebut selaras dengan Mazmur 127 ayat 3 dalam Alkitab.  ”Lihat ! Putra-putra adalah milik pusaka dari Yehuwa; Buah kandungan adalah upah,” demikian isi ayat tersebut, yang memperlihatkan pentingnya keberadaan anak di mata Yehuwa Sang Mahapencipta.

Masih banyak nasihat berharga dalam Menara Pengawal mengenai membesarkan dan memelihara anak. Salah satunya, bahwa menjadi orangtua yang bertanggungjawab itu mencakup lebih daripada sekadar menyediakan makanan, pakaian, penaungan, dan perawatan kesehatan bagi anak.

“Khususnya pada zaman akhir yang berbahaya ini, anak-anak perlu belajar sejak dini tentang prinsip-prinsip moral dalam kehidupan. Anak-anak harus dibesarkan dengan pengaturan-mental dari Yehuwa,” ucap Saudara Sidarta, menyitir isi Efesus 6 ayat 4.

Apa yang dimaksud dengan pengaturan-mental dari Yehuwa? Hal ini merupakan upaya menanamkan pandangan Yehuwa ke dalam pikiran manusia sejak bayi, dan terus sampai masa remaja yang penuh gejolak. Jadi, pengaturan-mental dari Yehuwa tersebut harus ditanamkan sejak dini, bukan setelah anak menjadi remaja.

Janganlah Belat-Belit dan Bengkok

ADAKAH pribadi-pribadi yang tanpa cela? Menurut Alkitab, ada. Mereka, antara lain, Nuh, Ayub, dan Yakub. Mereka adalah contoh pribadi-pribadi tanpa cela yang dipuji dan tak dipersalahkan oleh Yehuwa.

Begitulah serangkaian kalimat pembuka Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Dukuh Kupang Surabaya, Saudara Hariadi Ishak, saat berkhotbah di Sidang Wonokromo Surabaya, Minggu (15/6/2008) pagi. Judul khotbahnya adalah Tetap Tidak Dapat Dipersalahkan di Tengah-Tengah Generasi yang Bengkok.

Saudara Ishak menjadi pengkhotbah tamu di sidang kami. Pada saat yang sama, salah satu penatua kami, Saudara Jimmy Methuselah, menyampaikan khotbah di Sidang Darmo Satelit Surabaya.

Bukti bahwa Yehuwa memuji Ayub, kata Saudara Ishak, dapat dibaca pada Akitab yaitu Kitab Ayub 1 ayat 8. Menurut Yahuwa, “Hambaku, Ayub, bahwa tidak ada seorang pun yang seperti dia di bumi, seorang pria yang tidak bercela dan lurus hati”.

Saudara Ishak menambahkan, setiap penyembah Yehuwa —Saksi-Saksi Yehuwa— memang dituntut untuk hidup tanpa cela seperti Ayub. Mereka, antara lain, harus menjadi kelompok yang berbeda dengan mayoritas orang dunia, dan hati nuraninya bersih karena menjaga hubungan baik dengan Yehuwa maupun saudara-saudari di sidang Kristen .

Karena berbeda dengan orang-orang dunia —tak mengutamakan kepentingan materi— maka Saksi-Saksi Yehuwa menjadi “bersinar sebagai penerang dalam dunia”. Hal ini sesuai Kitab Filipi 2 ayat 15.

Selengkapnya, ayat 15 tersebut berbunyi, “Supaya kamu tidak bercela dan polos, anak-anak Allah tanpa cela dan cacat di antara generasi yang bengkok dan belat-belit, yang di antaranya kamu bersinar sebagai penerang dalam dunia”.

Saudara Ishak menambahkan, dalam hal tak bercela atau tidak dapat dipersalahkan itu sifatnya relatif, tidak mutlak. Artinya, pribadi yang menurut Yehuwa tak bercela tersebut bukan berarti tak pernah berbuat salah sepanjang hidupnya. Ayub, contohnya, sebagai manusia tak sempurna —mewarisi dosa manusia pertama, Adam— pasti pernah berbuat salah dan dosa.

“Allah mempunyai standar sendiri maupun hak untuk memandang dan menyatakan hamba-hambanya yang tidak dapat dipersalahkan. Jadi, bukan standar kita yang dipakai,” tegas Saudara Ishak di depan 66 Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab seperti saya.

Mengapa hal tersebut bersifat relatif? Karena, kata Saudara Ishak, Yehuwa menyadari bahwa manusia meski setia kepada-Nya tetapi sudah dicemari dosa Adam sekaligus tak pernah bisa luput dari dosa.

Menurut Saudara Ishak, agar menjadi pribadi yang tidak dapat dipersalahkan di tengah-tengah generasi nan bengkok, kita harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya, senantiasa rendah hati, memiliki kesadaran bergaul dengan saudara-saudari seiman, berjuang secara rohani bersama-sama saudara-saudari —bukan secara individual— dan berhimpun tetap-tentu.

“Kita juga menghindari bersikap dan berbuat sekehendak hati, bertindak dengan menentukan standar hidup sendiri. Kita hindari haluan hidup yang salah sekaligus melaksanakan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai umat Yehuwa, termasuk melawan setan si iblis,” tuturnya.

Sebelum mengakkhiri khotbah, Saudara Ishak mengutip Kitab Amsal 11 ayat 20, dan Amsal 27 ayat 11. Menurut Amsal 11:20, “Orang-orang yang bengkok hatinya memuakkan Yehuwa, tetapi orang-orang yang tidak bercela di jalan mereka menyenangkan Dia”.

Sedangkan Amsal 27 : 11 mencatat bahwa Yehuwa meminta orang-orang menjadi berhikmat, supaya hati-Nya menjadi bersuka-cita sekaligus agar dapat memberikan jawaban kepada orang-orang yang mencela-Nya. Nah, sangat pantas dan layak bagi kita untuk menaati permintaan Yehuwa ini.

Bagai Titik-titik Embun…

PELAJARAN Majalah Menara Pengawal kali ini, pada perhimpunan Minggu (15/6/2008) pagi, ditujukan terutama kepada kaum muda Kristen. Hal itu terlihat dari judul halaman 12 Majalah Menara Pengawal edisi 15 April 2008, yang kami pelajari Minggu (15/6) pagi,  ”Kaum Muda, Ingatlah Penciptamu yang Agung Sekarang”.

Diikuti 66 Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab dari Sidang Wonokromo Surabaya, pelajaran Menara Pengawal dipimpin oleh salah satu penatua kami, Saudara Soeharto. Dia dibantu Saudara Suryanda, yang membacakan Menara Pengawal mulai halaman 12 sampai 16.

menara-kaum-muda-closeup17.JPG

Prolog pelajaran Menara Pengawal ini adalah tentang bagaimana Allah Yehuwa, sebagai Pencipta yang Agung, memandang kaum muda Kristen. Menurut Kitab Mazmur 110 ayat 3, dalam pandangan Yehuwa, kaum muda Kristen sungguh berharga dan menyegarkan, bagaikan titik-titik embun.

Menara Pengawal antara lain mengingatkan kaum muda yang bak titik-titik embun itu mewaspadai strategi yang digunakan setan untuk memalingkan mereka dari Yehuwa sekaligus agar mereka gagal masuk ke dalam suatu sistem baru yang jauh lebih baik daripada sistem fasik sekarang. Setan memakai amoralitas seksual untuk merusak umat Allah, termasuk kaum muda Kristen. Bentuk amoralitas seksual ini, antara lain, percabulan dan homoseksualitas.

Untuk memperingatkan kaum muda supaya tak terperosok amoralitas seksual, Menara Pengawal mengutip Kitab Ibrani 13 ayat 4. Dalam Kitab Ibrani, murid Yesus Kristus, Rasul Palulus, menulis berbagai nasihat kepada orang-orang Ibrani; khusus pada Pasal 13 ayat 4 Paulus menasihati, “Hendaklah pernikahan terhormat di antara kamu semua, dan tempat tidur pernikahan tanpa pencemaran, karena Allah akan menghakimi orang yang melakukan percabulan dan pezina.”

Dengan mengutip kalimat itu Menara Pengawal mengingatkan muda-mudi Kristen bahwa hubungan seksual hanya boleh dinikmati sesuai petunjuk Allah, yaitu melalui sebuah pernikahan. Dengan demikian, Yehuwa melarang percabulan, perzinaan, homoseksualitas dan berbagai bentuk amoralitas seksual lain.

Selain masalah amoralitas seksual, pelajaran Menara Pengawal yang disampaikan Saudara Soeharto juga menyinggung tentang pentingnya pendidikan. Ditegaskan, bagi kaum muda Kristen pendidikan sekuler itu penting, namun lebih penting lagi pendidikan rohani.

Pentingnya pendidikan dasar sekuler adalah untuk mendukung kaum muda dalam menjadi pemberita Kerajaan —menyiarkan kabar baik tentang Kerajaan Allah—  secara produktif. Dengan pendidikan dasar sekuler yang baik diharapkan kaum muda dapat berkomunikasi dengan baik, berpikir logis, dan bertukar pikiran secara tenang dan penuh respek dengan orang lain.

Saudara Soeharto menjelaskan bahwa sejak zaman Israel pendidikan kaum muda sangat diperhatikan oleh orangtua. Pendidikan tersebut meliputi hampir semua bidang kehidupan, khususnya hal-hal rohani. Hal ini sesuai isi Kitab Ulangan 6 ayat 6 dan 7 yang menjelaskan pentingnya pendidikan rohani daripada pendidikan sekuler.

Mukjizat Pertama Yesus

PERISTIWA yang pertama kali terjadi pasti penting dan atau menarik. Apapun. Misalnya, pertama kali mengenal Kebenaran, pertama kali berhimpun, pertama kali ikut Kebaktian Distrik, dan sebagainya.

Begitu pula dengan mukjizat yang pertama kali dilakukan oleh Yesus Kristus seperti dikutip Alkitab. Karena menganggap penting sekaligus menarik, saya tergerak untuk mengenang mukjizat perdana tokoh terbesar sepanjang masa dan panutan umat Kristen tersebut melalui blog ini.

yesus-tokoh-terbesar-14.jpg

Alkitab mencatat, mukjizat pertama Yesus adalah mengubah air menjadi anggur kelas tinggi alias bermutu sangat baik. Hal ini dilakukan Yesus tatkala Yesus dan murid-muridnya datang ke sebuah pesta perkawinan di Kana, sebuah kota yang terletak di bukit-bukit tidak jauh dari Nazaret, tempat Yesus dibesarkan.

Dalam Buku Tokoh Terbesar Sepanjang Masa, terbitan Saksi-Saksi Yehuwa, disebutkan bahwa ibu Yesus, Maria, juga datang ke pesta perkawinan itu. Sebagai teman dari keluarga mempelai, rupanya Maria ikut serta melayani tamu-tamu. Karena itulah Maria tahu ketika tuan rumah kehabisan sesuatu, yaitu anggur.

Menurut Kitab Yohanes 2 ayat 3, sewaktu terjadi kekurangan anggur, ibu Yesus mengatakan kepadanya, ”Mereka kehabisan anggur.” Kala itu Yesus menjawab bahwa jamnya (waktu untuk berbuat mukjizat) belum tiba.

Mendengar jawaban tersebut, Maria tak memaksa putranya, dan dengan bijaksana menyerahkan hal itu kepada sang putra, Yesus. Hal itu tampak dari Yohanes 2 ayat 5, bahwa “Ibunya mengatakan kepada para pelayan,  ’Apapun yang dia katakan kepadamu, lakukanlah’.”

yesus-anggur15.JPG

Di sana waktu itu ada enam tempayan batu besar. Ketika Yesus mengatakan kepada para pelayan agar mengisi tempayan-tempayan tersebut dengan air, mereka patuh, dan mengisikan air sampai penuh ke semua bibir tempayan.

Setelah itu Yesus meminta para pelayan mengambil sedikit air dari dalam tempayan untuk diberikan kepada pemimpin pesta perkawinan. Ketika pelayan memberikan sebagian air kepada pemimpin pesta perkawinan, ternyata air dalam semua tempayan telah berubah menjadi anggur berkualitas atau bermutu tinggi.

Hal tersebut tampak dari reaksi sang pemimpin pesta perkawinan. Setelah dia mengecap air yang telah diubah Yesus menjadi anggur, tetapi tidak mengetahui dari mana sumbernya —meskipun para pelayan yang telah mengambil air itu tahu— pemimpin pesta perkawinan pun memanggil pengantin laki-laki.

“Orang lain menyajikan anggur yang baik lebih dahulu, dan sesudah orang-orang berada di bawah pengaruh alkohol, barulah yang kurang bermutu. Engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang,” puji sang pemimpin pesta seperti dicatat Kitab Yohanes 2 ayat 10.

Yohanes juga mencatat peristiwa tersebut sebagai mukjizat pertama Yesus. Ini sesuai dengan isi Yohanes 2 ayat 11, bahwa “Yesus melakukan hal itu di Kana di Galilea sebagai yang permulaan dari tanda-tandanya, dan ia membuat kemuliaannya nyata; dan murid-muridnya beriman kepadanya”.

mukjizat-pertama-yesus14-115.JPG

“Sebagai permulaan dari tanda-tandanya”, begitulah istilah Yohanes untuk menyebut mukjizat pertama yang Yesus lakukan. Setelah itu, masih banyak mukjizat lain yang dilakukan Yesus atas nama Bapaknya, Allah Yehuwa.

Kita Membutuhkan Yesus Sebagai Tebusan Dosa Adam

PERHIMPUNAN kami di Sidang Wonokromo Surabaya, Minggu (8/6/2008) pagi, kembali menghadirkan pengkhotbah tamu. Kali ini, Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Darmo Satelit Surabaya, Saudara Hendra Gunawan.

Saudara Gunawan menyampaikan khotbah umum berjudul Mengapa Umat Manusia Membutuhkan Tebusan? Seraya mengutip ayat-ayat dalam Alkitab, dia antara lain menjelaskan pengertian tentang tebusan,  siapakah yang menjadi penebus,  dan kepada siapakah tebusan itu harus dibayarkan.

alkitab35.JPG

Berbicara mengenai tebusan, kata Saudara Gunawan, orang biasanya teringat tentang rumah gadai atau pegadaian. Hal itu wajar. Sebab, tebusan memang merupakan harga yang dibayarkan untuk membebaskan atau membeli kembali sesuatu.

Bagi umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa, jelas bahwa yang dimaksud dengan tebusan adalah Yesus Kristus. Dia menjadi harga yang sepadan guna dibayarkan untuk membebaskan kembali sesuatu, atau sebuah biaya untuk menutup kerugian tertentu.

Kerugian dimaksud adalah dosa awal yang dilakukan manusia pertama, Adam, ribuan tahun silam (Kejadian 3:17-19). Nah, agar Yesus bisa menjadi suatu tebusan yang sepadan dengan dosa Adam itu maka dia —yang merupakan pribadi roh, putera Allah Yehuwa— harus terlebih dulu menjadi manusia.

“Maka, Yehuwa membuat pengaturan yang luar biasa dengan mengorbankan putera-Nya, yaitu melahirkan Yesus ke dunia melalui rahim seorang manusia, Maria,” jelas Saudara Gunawan kepada kami, 60 orang Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab.

Meninggalnya Yesus secara menderita pada tanggal 14 Nisan tahun 33 Masehi silam —dan tiga hari kemudian dibangkitkan lagi oleh Allah Yehuwa untuk dinaikkan kembali ke sorga— menjadi tebusan atas dosa awal Adam. Sebelumnya, satu dosa dilakukan Adam, membuat dia menjadi manusia tak sempurna, dan dosa itu berpengaruh kepada jutaan manusia keturunan Adam. Kemudian, kematian seorang Yesus pun menjadi tebusan atas jutaan manusia.

Bagaimana satu orang, Yesus Kristus, bisa menjadi tebusan untuk semua orang? Saudara Gunawan menjelaskan, jawaban atas pertanyaan itu ada pada Kitab Ibrani 5 ayat 18 dan 19.

Menurut ayat 18, “Maka, sebagaimana melalui satu pelanggaran segala macam orang memperoleh hukuman, demikian pula melalui satu tindakan yang menghasilkan pembenaran, segala macam orang dinyatakan adil-benar untuk kehidupan”.

‘Satu pelanggaran’ yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah pelanggaran oleh Adam. Sedangkan ’satu tindakan yang menghasilkan pembenaran’ adalah kematian Yesus.

Selanjutnya, ayat 19 menyatakan, “Karena sebagaimana melalui ketidaktaatan satu pria, banyak orang menjadi berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang, banyak akan dibawa kepada keadaan adil-benar.”

Seperti dalam ayat 18 tadi, ‘ketidaktaatan satu pria’ ini adalah ketidaktaatan Adam atas instruksi penciptanya, Yehuwa. Sedangkan ‘ketaatan satu orang’ merupakan ketaatan Yesus atas perintah bapaknya, Yehuwa.

***

Kepada siapakah tebusan itu —Yesus— harus dibayarkan? Kepada Allah Yehuwa. Karena, Yehuwa adalah sumber hayat atau sumber kehidupan. “Karena padamu ada sumber kehidupan; dengan terang darimu kami dapat melihat terang,”ucap Saudara Gunawan mengutip Mazmur 36 ayat 9.

Dia juga menjelaskan bahwa nilai tebusan Yesus telah diterima Yehuwa karena dianggap sepadan dengan kerugian yang ditimbulkan oleh Adam. Buktinya, Yehuwa sudah membangkitkan Yesus dari kematian, kemudian mengangkatnya ke surga.

Salah satu ayat dalam Alkitab yang membuktikan Yesus masuk ke sorga adalah Ibrani 9 ayat 24. “Karena Kristus tidak masuk ke suatu tempat kudus yang dibuat dengan tangan, yang adalah tiruan dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga itu sendiri, untuk menghadap pribadi Allah bagi kita.”

Hal itu berarti Yesus sebagai tebusan telah merukunkan kembali perkara-perkara di surga. Di sisi lain, tambah Saudara Gunawan, tebusan tersebut juga merukunkan perkara-perkara di dunia, karena menjadi harapan orang-orang untuk bisa hidup kekal di firdaus di bumi.

“Jadi, manfaat tebusan pun dapat dirasakan sekarang, membuat kita memiliki hati nurani yang bersih. Menurut Kolose 1 ayat 14, melalui dialah kita mendapatkan kelepasan melalui tebusan, yaitu pengampunan atas dosa-dosa kita,” tegas Saudara Gunawan.

Namun, tambahnya, manfaat tebusan itu tidak otomatis dimiliki atau dirasakan semua orang. Selaras dengan Yohanes 3 ayat 16, maka agar dapat merasakan manfaat Yesus sebagai tebusan, orang harus memperlihatkan iman kepada Yehuwa maupun Yesus.

Untuk itu, orang perlu pengetahuan yang seksama tentang Yehuwa dan Yesus, putera-Nya, di mana pengetahuan tersebut berlangsung secara terus-menerus.  ”Hal ini sesuai Kitab Yohanes 17 ayat 3,  bahwa ‘Ini berarti kehidupan abadi, bahwa mereka terus memperoleh pengetahuan mengenai dirimu, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal pribadi yang engkau utus, Yesus Kritus’,” jelas Saudara Gunawan.

Menolak ‘Perkara-perkara Tidak Bernilai’

 mp13.JPG

PERHIMPUNAN  hari Minggu (1/6/2008) pagi, seperti biasa, terdiri dari dua corak, yaitu khotbah umum dan pelajaran Menara Pengawal. Majalah Menara Pengawal yang kami pelajari adalah majalah edisi 15 April, yang dibahas sejak 26 Mei-1 Juni sampai 23-29 Juni.

Kami, 60  orang Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab di Sidang Wonokromo Surabaya, mempelajari bab pertama dari edisi tersebut, yaitu bab berjudul Tolaklah “Perkara-perkara yang Tidak Bernilai”. Pelajaran Menara Pengawal ini dipimpin penatua kami, Saudara Jimmy Methuselah, setelah khotbah umum yang disampaikan penatua lannya, Saudara Soeharto.

Secara umum, apa saja hal-hal atau perkara-perkara tidak bernilai itu? Menurut Menara Pengawal, hal tersebut bisa berupa apa saja yang menyimpangkan atau memalingkan kita sehingga kita tidak melayani Allah Yehuwa dengan sepenuh jiwa.

Sebuah definisi yang sangat luas. Untuk mempersempitnya, Menara Pengawal pun menyebut beberapa contoh, antara lain, berbagai bentuk rekreasi, allah-allah palsu, ibadat palsu, pendidikan sekuler, dan kata-kata yang tak bernilai.

Mengapa rekreasi bisa menjadi perkara yang tidak bernilai? “Tentu saja rekreasi ada manfaatnya. Tetapi, jika kita menggunakan terlalu banyak waktu untuk bersenang-senang sehingga mengorbankan kegiatan yang berkaitan dengan ibadat kita, maka rekreasi menjadi sesuatu yang tidak bernilai, bahkan merugikan kesejahteraan rohani kita,” jelas Saudara Methuselah.

Adapun yang dimaksud allah-allah palsu bukan hanya berbagai peranti seperti patung pahatan atau pilar suci pada era Israel kuno melainkan juga kekayaan pada masa kini. Nah, bagaimana kekayaan bisa menjadi suatu allah?

Menara Pengawal mencontohkan tentang sebuah batu di ladang Israel zaman dulu. Batu seperti itu bisa berguna untuk membangun rumah atau tembok, yang berarti berguna untuk pembangunan biasa. Namun, sebaliknya, jika batu tadi dijadikan ‘pilar suci’ atau ‘patung pahatan’, maka batu tersebut menjadi sandungan bagi umat Yehuwa.

Demikian pula uang. Uang tentu saja ada gunanya. Kita memerlukannya sekadar untuk bertahan hidup, dan kita dapat menggunakannya dengan baik dalam dinas kepada Yehuwa. Namun, bila kita lebih mengutamakan pengejaran uang daripada dinas Kristen, maka uang sebenarnya telah menjadi allah kita.

Terkait itu, Saudara Methuselah mengutip 1 Timotius 6 ayat 9 dan 10 dari Alkitab. Dua ayat ini termasuk ayat-ayat yang populer bagi Saksi-Saksi Yehuwa. “Tetapi, orang yang bertekad untuk menjadi kaya jatuh dalam godaan dan jerat dan banyak keinginan hampa dan menyakitkan yang menjeremuskan orang-orang dalam kebinasaan dan keruntuhan,” begitulah isi ayat 9.

Mengapa demikian? Sebab, menurut ayat 10, “Cinta akan uang adalah akar segala macam perkara yang mencelakakan, dan dengan memupuk cinta ini beberapa orang telah disesatkan dari iman dan menikam diri mereka dengan banyak kesakitan.”

Isi dua ayat tersebut mengingatkan kita untuk memiliki pandangan yang tetap seimbang terhadap kekayaan atau materi agar tidak menjadi suatu allah, supaya tak menjadi perkara yang tidak bernilai. Karena, kita tahu bahwa di dunia ini orang-orang menganggap sangat penting upaya mengejar keuntungan materi.