Juni 2, 2008
Menolak ‘Perkara-perkara Tidak Bernilai’
PERHIMPUNAN hari Minggu (1/6/2008) pagi, seperti biasa, terdiri dari dua corak, yaitu khotbah umum dan pelajaran Menara Pengawal. Majalah Menara Pengawal yang kami pelajari adalah majalah edisi 15 April, yang dibahas sejak 26 Mei-1 Juni sampai 23-29 Juni.
Kami, 60 orang Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab di Sidang Wonokromo Surabaya, mempelajari bab pertama dari edisi tersebut, yaitu bab berjudul Tolaklah “Perkara-perkara yang Tidak Bernilai”. Pelajaran Menara Pengawal ini dipimpin penatua kami, Saudara Jimmy Methuselah, setelah khotbah umum yang disampaikan penatua lannya, Saudara Soeharto.
Secara umum, apa saja hal-hal atau perkara-perkara tidak bernilai itu? Menurut Menara Pengawal, hal tersebut bisa berupa apa saja yang menyimpangkan atau memalingkan kita sehingga kita tidak melayani Allah Yehuwa dengan sepenuh jiwa.
Sebuah definisi yang sangat luas. Untuk mempersempitnya, Menara Pengawal pun menyebut beberapa contoh, antara lain, berbagai bentuk rekreasi, allah-allah palsu, ibadat palsu, pendidikan sekuler, dan kata-kata yang tak bernilai.
Mengapa rekreasi bisa menjadi perkara yang tidak bernilai? “Tentu saja rekreasi ada manfaatnya. Tetapi, jika kita menggunakan terlalu banyak waktu untuk bersenang-senang sehingga mengorbankan kegiatan yang berkaitan dengan ibadat kita, maka rekreasi menjadi sesuatu yang tidak bernilai, bahkan merugikan kesejahteraan rohani kita,” jelas Saudara Methuselah.
Adapun yang dimaksud allah-allah palsu bukan hanya berbagai peranti seperti patung pahatan atau pilar suci pada era Israel kuno melainkan juga kekayaan pada masa kini. Nah, bagaimana kekayaan bisa menjadi suatu allah?
Menara Pengawal mencontohkan tentang sebuah batu di ladang Israel zaman dulu. Batu seperti itu bisa berguna untuk membangun rumah atau tembok, yang berarti berguna untuk pembangunan biasa. Namun, sebaliknya, jika batu tadi dijadikan ‘pilar suci’ atau ‘patung pahatan’, maka batu tersebut menjadi sandungan bagi umat Yehuwa.
Demikian pula uang. Uang tentu saja ada gunanya. Kita memerlukannya sekadar untuk bertahan hidup, dan kita dapat menggunakannya dengan baik dalam dinas kepada Yehuwa. Namun, bila kita lebih mengutamakan pengejaran uang daripada dinas Kristen, maka uang sebenarnya telah menjadi allah kita.
Terkait itu, Saudara Methuselah mengutip 1 Timotius 6 ayat 9 dan 10 dari Alkitab. Dua ayat ini termasuk ayat-ayat yang populer bagi Saksi-Saksi Yehuwa. “Tetapi, orang yang bertekad untuk menjadi kaya jatuh dalam godaan dan jerat dan banyak keinginan hampa dan menyakitkan yang menjeremuskan orang-orang dalam kebinasaan dan keruntuhan,” begitulah isi ayat 9.
Mengapa demikian? Sebab, menurut ayat 10, “Cinta akan uang adalah akar segala macam perkara yang mencelakakan, dan dengan memupuk cinta ini beberapa orang telah disesatkan dari iman dan menikam diri mereka dengan banyak kesakitan.”
Isi dua ayat tersebut mengingatkan kita untuk memiliki pandangan yang tetap seimbang terhadap kekayaan atau materi agar tidak menjadi suatu allah, supaya tak menjadi perkara yang tidak bernilai. Karena, kita tahu bahwa di dunia ini orang-orang menganggap sangat penting upaya mengejar keuntungan materi.
Filed by juniantosetyadi at 12:46 am under Berhimpun