Juni
2008
Kita Membutuhkan Yesus Sebagai Tebusan Dosa Adam
PERHIMPUNAN kami di Sidang Wonokromo Surabaya, Minggu (8/6/2008) pagi, kembali menghadirkan pengkhotbah tamu. Kali ini, Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Darmo Satelit Surabaya, Saudara Hendra Gunawan.
Saudara Gunawan menyampaikan khotbah umum berjudul Mengapa Umat Manusia Membutuhkan Tebusan? Seraya mengutip ayat-ayat dalam Alkitab, dia antara lain menjelaskan pengertian tentang tebusan, siapakah yang menjadi penebus, dan kepada siapakah tebusan itu harus dibayarkan.
Berbicara mengenai tebusan, kata Saudara Gunawan, orang biasanya teringat tentang rumah gadai atau pegadaian. Hal itu wajar. Sebab, tebusan memang merupakan harga yang dibayarkan untuk membebaskan atau membeli kembali sesuatu.
Bagi umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa, jelas bahwa yang dimaksud dengan tebusan adalah Yesus Kristus. Dia menjadi harga yang sepadan guna dibayarkan untuk membebaskan kembali sesuatu, atau sebuah biaya untuk menutup kerugian tertentu.
Kerugian dimaksud adalah dosa awal yang dilakukan manusia pertama, Adam, ribuan tahun silam (Kejadian 3:17-19). Nah, agar Yesus bisa menjadi suatu tebusan yang sepadan dengan dosa Adam itu maka dia —yang merupakan pribadi roh, putera Allah Yehuwa— harus terlebih dulu menjadi manusia.
“Maka, Yehuwa membuat pengaturan yang luar biasa dengan mengorbankan putera-Nya, yaitu melahirkan Yesus ke dunia melalui rahim seorang manusia, Maria,” jelas Saudara Gunawan kepada kami, 60 orang Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab.
Meninggalnya Yesus secara menderita pada tanggal 14 Nisan tahun 33 Masehi silam —dan tiga hari kemudian dibangkitkan lagi oleh Allah Yehuwa untuk dinaikkan kembali ke sorga— menjadi tebusan atas dosa awal Adam. Sebelumnya, satu dosa dilakukan Adam, membuat dia menjadi manusia tak sempurna, dan dosa itu berpengaruh kepada jutaan manusia keturunan Adam. Kemudian, kematian seorang Yesus pun menjadi tebusan atas jutaan manusia.
Bagaimana satu orang, Yesus Kristus, bisa menjadi tebusan untuk semua orang? Saudara Gunawan menjelaskan, jawaban atas pertanyaan itu ada pada Kitab Ibrani 5 ayat 18 dan 19.
Menurut ayat 18, “Maka, sebagaimana melalui satu pelanggaran segala macam orang memperoleh hukuman, demikian pula melalui satu tindakan yang menghasilkan pembenaran, segala macam orang dinyatakan adil-benar untuk kehidupan”.
‘Satu pelanggaran’ yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah pelanggaran oleh Adam. Sedangkan ’satu tindakan yang menghasilkan pembenaran’ adalah kematian Yesus.
Selanjutnya, ayat 19 menyatakan, “Karena sebagaimana melalui ketidaktaatan satu pria, banyak orang menjadi berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang, banyak akan dibawa kepada keadaan adil-benar.”
Seperti dalam ayat 18 tadi, ‘ketidaktaatan satu pria’ ini adalah ketidaktaatan Adam atas instruksi penciptanya, Yehuwa. Sedangkan ‘ketaatan satu orang’ merupakan ketaatan Yesus atas perintah bapaknya, Yehuwa.
***
Kepada siapakah tebusan itu —Yesus— harus dibayarkan? Kepada Allah Yehuwa. Karena, Yehuwa adalah sumber hayat atau sumber kehidupan. “Karena padamu ada sumber kehidupan; dengan terang darimu kami dapat melihat terang,”ucap Saudara Gunawan mengutip Mazmur 36 ayat 9.
Dia juga menjelaskan bahwa nilai tebusan Yesus telah diterima Yehuwa karena dianggap sepadan dengan kerugian yang ditimbulkan oleh Adam. Buktinya, Yehuwa sudah membangkitkan Yesus dari kematian, kemudian mengangkatnya ke surga.
Salah satu ayat dalam Alkitab yang membuktikan Yesus masuk ke sorga adalah Ibrani 9 ayat 24. “Karena Kristus tidak masuk ke suatu tempat kudus yang dibuat dengan tangan, yang adalah tiruan dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga itu sendiri, untuk menghadap pribadi Allah bagi kita.”
Hal itu berarti Yesus sebagai tebusan telah merukunkan kembali perkara-perkara di surga. Di sisi lain, tambah Saudara Gunawan, tebusan tersebut juga merukunkan perkara-perkara di dunia, karena menjadi harapan orang-orang untuk bisa hidup kekal di firdaus di bumi.
“Jadi, manfaat tebusan pun dapat dirasakan sekarang, membuat kita memiliki hati nurani yang bersih. Menurut Kolose 1 ayat 14, melalui dialah kita mendapatkan kelepasan melalui tebusan, yaitu pengampunan atas dosa-dosa kita,” tegas Saudara Gunawan.
Namun, tambahnya, manfaat tebusan itu tidak otomatis dimiliki atau dirasakan semua orang. Selaras dengan Yohanes 3 ayat 16, maka agar dapat merasakan manfaat Yesus sebagai tebusan, orang harus memperlihatkan iman kepada Yehuwa maupun Yesus.
Untuk itu, orang perlu pengetahuan yang seksama tentang Yehuwa dan Yesus, putera-Nya, di mana pengetahuan tersebut berlangsung secara terus-menerus. ”Hal ini sesuai Kitab Yohanes 17 ayat 3, bahwa ‘Ini berarti kehidupan abadi, bahwa mereka terus memperoleh pengetahuan mengenai dirimu, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal pribadi yang engkau utus, Yesus Kritus’,” jelas Saudara Gunawan.