16
Juni
2008

Janganlah Belat-Belit dan Bengkok

ADAKAH pribadi-pribadi yang tanpa cela? Menurut Alkitab, ada. Mereka, antara lain, Nuh, Ayub, dan Yakub. Mereka adalah contoh pribadi-pribadi tanpa cela yang dipuji dan tak dipersalahkan oleh Yehuwa.

Begitulah serangkaian kalimat pembuka Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Dukuh Kupang Surabaya, Saudara Hariadi Ishak, saat berkhotbah di Sidang Wonokromo Surabaya, Minggu (15/6/2008) pagi. Judul khotbahnya adalah Tetap Tidak Dapat Dipersalahkan di Tengah-Tengah Generasi yang Bengkok.

Saudara Ishak menjadi pengkhotbah tamu di sidang kami. Pada saat yang sama, salah satu penatua kami, Saudara Jimmy Methuselah, menyampaikan khotbah di Sidang Darmo Satelit Surabaya.

Bukti bahwa Yehuwa memuji Ayub, kata Saudara Ishak, dapat dibaca pada Akitab yaitu Kitab Ayub 1 ayat 8. Menurut Yahuwa, “Hambaku, Ayub, bahwa tidak ada seorang pun yang seperti dia di bumi, seorang pria yang tidak bercela dan lurus hati”.

Saudara Ishak menambahkan, setiap penyembah Yehuwa —Saksi-Saksi Yehuwa— memang dituntut untuk hidup tanpa cela seperti Ayub. Mereka, antara lain, harus menjadi kelompok yang berbeda dengan mayoritas orang dunia, dan hati nuraninya bersih karena menjaga hubungan baik dengan Yehuwa maupun saudara-saudari di sidang Kristen .

Karena berbeda dengan orang-orang dunia —tak mengutamakan kepentingan materi— maka Saksi-Saksi Yehuwa menjadi “bersinar sebagai penerang dalam dunia”. Hal ini sesuai Kitab Filipi 2 ayat 15.

Selengkapnya, ayat 15 tersebut berbunyi, “Supaya kamu tidak bercela dan polos, anak-anak Allah tanpa cela dan cacat di antara generasi yang bengkok dan belat-belit, yang di antaranya kamu bersinar sebagai penerang dalam dunia”.

Saudara Ishak menambahkan, dalam hal tak bercela atau tidak dapat dipersalahkan itu sifatnya relatif, tidak mutlak. Artinya, pribadi yang menurut Yehuwa tak bercela tersebut bukan berarti tak pernah berbuat salah sepanjang hidupnya. Ayub, contohnya, sebagai manusia tak sempurna —mewarisi dosa manusia pertama, Adam— pasti pernah berbuat salah dan dosa.

“Allah mempunyai standar sendiri maupun hak untuk memandang dan menyatakan hamba-hambanya yang tidak dapat dipersalahkan. Jadi, bukan standar kita yang dipakai,” tegas Saudara Ishak di depan 66 Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab seperti saya.

Mengapa hal tersebut bersifat relatif? Karena, kata Saudara Ishak, Yehuwa menyadari bahwa manusia meski setia kepada-Nya tetapi sudah dicemari dosa Adam sekaligus tak pernah bisa luput dari dosa.

Menurut Saudara Ishak, agar menjadi pribadi yang tidak dapat dipersalahkan di tengah-tengah generasi nan bengkok, kita harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya, senantiasa rendah hati, memiliki kesadaran bergaul dengan saudara-saudari seiman, berjuang secara rohani bersama-sama saudara-saudari —bukan secara individual— dan berhimpun tetap-tentu.

“Kita juga menghindari bersikap dan berbuat sekehendak hati, bertindak dengan menentukan standar hidup sendiri. Kita hindari haluan hidup yang salah sekaligus melaksanakan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai umat Yehuwa, termasuk melawan setan si iblis,” tuturnya.

Sebelum mengakkhiri khotbah, Saudara Ishak mengutip Kitab Amsal 11 ayat 20, dan Amsal 27 ayat 11. Menurut Amsal 11:20, “Orang-orang yang bengkok hatinya memuakkan Yehuwa, tetapi orang-orang yang tidak bercela di jalan mereka menyenangkan Dia”.

Sedangkan Amsal 27 : 11 mencatat bahwa Yehuwa meminta orang-orang menjadi berhikmat, supaya hati-Nya menjadi bersuka-cita sekaligus agar dapat memberikan jawaban kepada orang-orang yang mencela-Nya. Nah, sangat pantas dan layak bagi kita untuk menaati permintaan Yehuwa ini.



Leave a Reply