30
September
2008
MEREKA terus melempari Stefanus dengan batu, sementara ia membuat permohonan dan mengatakan, “Tuan Yesus, terimalah rohku.” Lalu, sambil berlutut, ia berteriak dengan suara keras, “Yehuwa, jangan perhitungkan dosa ini atas mereka.” — Kis. 7 :59,60
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
29
September
2008
KASIH itu dari Allah… Ia yang tidak mengasihi tidak mengenal Allah, karena Allah adalah kasih. — 1 Yoh. 4:7,8
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
28
September
2008
SELURUH dunia berada dalam kuasa si fasik. — 1 Yoh. 5:19
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
27
September
2008
PERMOHONAN orang yang adil-benar, bila itu sedang bekerja, besar kekuatannya. -– Yak. 5:16
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
26
September
2008
HASILKANLAH buah yang sesuai dengan pertobatan. — Luk. 3:8
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
24
September
2008
[YESUS] merendahkan dirinya, dan taat sampai mati, ya, mati pada tiang siksaan. — Flp. 2:8
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
24
September
2008
ANAK bungsu saya, Ryan, 12 tahun, disunat di tempat praktik seorang dokter-umum di Solo, Senin (22/9/2008) sore. Bukan sebuah peristiwa yang penting atau istimewa. Karena, sebagaimana dicatat dalam Alkitab, yaitu 1 Korintus 7 :19, ‘Sunat tidak penting, dan tidak bersunat juga tidak penting….’.
Kalaupun kemudian ada yang terlihat penting, itu karena beberapa jam setelah Ryan disunat, istri saya sepanjang Senin (22/9) malam sampai Selasa (23/9) dini hari tidak bisa tidur nyenyak. Dia berkali-kali terbangun gara-gara rengekan anak kami yang bernama lengkap Delvaryan Ilham Kurniawan itu, yang merasa perih pada “burung”-nya.
Karena saat Ryan sunat saya sedang bekerja seperti biasa di Surabaya, maka istri saya membagi kerepotannya dengan saya melalui ponsel. Dia dari Solo terus-menerus mengirim SMS —kami sengaja tak berbicara di ponsel, agar tak mengganggu Ryan— sampai Selasa (23/9) dini hari.
Kemudian, Selasa (23/9) pagi sekira pukul 10.00 WIB, istri saya mengabarkan bahwa dirinya baru saja mengantar Ryan kontrol ke dokter yang menyunat anak ketiga saya tersebut. Hingga tiga-empat hari mendatang, istri saya mesti pulang-pergi ke tempat praktik sang dokter, demi kesehatan Ryan, anak saya yang kelas I SMPN 22 Solo ini.
(Seperti halnya saat berangkat sunat, selama mengantar kontrol Ryan, istri saya ditemani Saudara Edy Cahyono dan istrinya, Saudari Shinta Edy Cahyono, Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Solo Selatan. Dokter yang menyunat Ryan, dr Haryono, merupakan kenalan keluarga Cahyono).
Benar, demi kesehatan. Menurut sebuah referensi, tujuan utama dari bersunat adalah membersihkan dari berbagai kotoran dan penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis atau zakar yang masih ada kulupnya. Ketika bersunat, kulup yang menutupi jalan ke luar urine dibuang, sehingga kecil kemungkinan kotoran menempel atau berkumpul pada ujung penis jadi. Sebab, penis menjadi lebih mudah dibersihkan.
Sunat juga dapat menghindari timbulnya berbagai penyakit seperti fimosis, parafimosis, kandidiasis, dan tumor ganas maupun pra ganas pada daerah alat kelamin laki-laki. Terbukti pula, penis laki-laki yang disunat lebih higienis sehingga pada masa tua kelak laki-laki —termasuk Ryan, anak ragil saya— lebih mudah merawatnya.
Berbagi
Posted: Keluarga, Sehari-hari
23
September
2008
ENGKAU dan orang-orang Yahudi sedang mengatur siasat untuk memberontak. — Neh. 6:6
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
22
September
2008
ORANG mati sama sekali tidak sadar akan apapun. — Pkh. 9:5
Sumber: Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 Terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia
Berbagi
Posted: Berdoa, Publikasi
22
September
2008

BEBERAPA saat lalu, sekira pukul 22.15 WIB, Minggu (21/9/2008), melalui sebuah mesin ATM BCA di Surabaya, saya mentransfer sejumlah uang kepada kakak saya di luar kota. Ini saya lakukan setelah dua hari lalu kakak saya tersebut mengirim saya SMS, yang intinya meminjam uang untuk berobat.
Sepekan sebelumnya, kakak saya yang lain juga perlu uang. Setelah kakak saya berusaha ke sana-kemari tetapi gagal, barulah dia mencari saya. Maka, saya beri dia duit sesuai kebutuhannya.
Saya bukan hendak mengobral kekurangan ekonomi kakak-kakak saya. Juga bukan pamer kelebihan duit saya. Sama sekali bukan.
Saya hanya hendak menunjukkan bahwa fakta seperti itu menjadi salah satu penyebab saya mensyukuri hidup saya pribadi : saat ini, saya tidak dalam posisi seperti mereka, tidak dalam kondisi kekurangan. Saya tidak dalam kondisi meminta bantuan melainkan memberi bantuan. Bukankah kondisi ini patut saya syukuri?
(Apalagi, sebagaimana dikatakan Yesus seperti dicatat dalam Alkitab, khususnya Kisah Para Rasul Pasal 20 ayat 35, ‘lebih bahagia memberi daripada menerima’….).
Itu baru satu hal. Masih banyak hal lain yang menyebabkan saya senantiasa bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Misalnya, Kamis (25/9/2009) nanti anak sulung saya, Ariani Setyowati a.k.a. Aik, akan diwisuda sebagai lulusan D-3 di kampusnya, Universitas 11 Maret Surakarta (UNS) setelah lulus dan beroleh pekerjaan sejak hampir dua bulan lalu.
Belum lagi hal-hal lain, yang bagi orang lain mungkin kelihatan remeh-temeh —karena merupakan kegiatan rutin sehari-hari— seperti kemudahan membeli makanan dan minuman setiap hari, kemudahan mengisi pulsa ponsel setiap kali pulsa akan habis, kemudahan ngeblog, kemudahan…. Juga, tentu saja, kondisi badan yang sehat.
Demikian pula untuk hal-hal yang berkaitan dengan rohani. Antara lain, bisa lancar berhimpun bersama-sama Saksi-Saksi Yehuwa di Surabaya setiap Minggu pagi, dan berhimpun di Solo setiap Kamis petang. Itu sebabnya, layak dan pantas bahwa saya terus bersyukur, bersyukur, dan bersyukur atas semu berkat rohani maupun jasmani dari Allah Yehuwa….
© foto antaraphoto
Berbagi
Posted: Keluarga, Sehari-hari