Belajar Alkitab, dan Berhimpun


HARI Minggu (24/8/2008) pagi, anak lanang saya nomor dua, Okky a.k.a. Opi, ikut berhimpun bersama Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Solo Selatan. Bagi Opi, ini adalah perhimpunan pertama setelah dia belajar Alkitab setiap Kamis malam sejak sekira 1,5 bulan lalu.

Saya sungguh bersyukur kepada Allah Yehuwa. Karena, sebelumnya, tak gampang mengajak Opi belajar Alkitab kepada Saksi-Saksi Yehuwa, para pengikut Yesus Kristus tersebut. Anak saya, yang kini kelas III SMPN 3 Solo, itu selalu mengelak dengan berbagai cara.

Sampai kemudian, saat kenaikan kelas, Juli 2008 lalu, terungkap kenakalan Okky Surya Setyapamungkas —nama lengkap Opi— di sekolah. Dia, antara lain, tak membayarkan uang SPP selama delapan bulan, uang biaya darmawisata, dan uang buku.

[Gara-gara kenakalannya itu, saya harus melunasi (lagi) pembayaran sekitar Rp 1,5 juta. Padahal, dulu, saya sudah memberi Opi uang untuk melunasi semua kewajibannya di sekolah. Termasuk uang SPP, yang wajib dibayarkan Opi setiap bulan tetapi ternyata ditilepnya sampai sembilan bulan, dan pihak sekolah tak pernah menghubungi saya untuk menanyakan mengapa Opi tak pernah membayar SPP!]

Kenakalan Opi, yang menurut saya termasuk luar biasa, itu memicu kemarahan saya. Selain memarahi Opi, saya juga kembali meminta dia belajar Alkitab. Kali ini ternyata dia manut. Maka, anak lanang saya nomor dua tersebut pun belajar Alkitab, setiap Kamis malam, di rumah saya, di Kampung Slembaran, Serengan, Solo, Jawa Tengah.

[Sampai saat saya posting tulisan ini, akhir Agustus 2008, pelajaran Opi sudah sampai pada Pasal 4 Buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? Pasal 4 ini membahas tentang ‘Siapakah Yesus Kristus?’]

Pengajar Opi adalah Saudara Nelson Robby Cahyono, yang juga pengajar Alkitab adik tiri Opi, Ryan. Berbeda dengan Opi, Ryan sudah belajar sejak sekitar dua tahun silam, dan rutin ikut perhimpunan setiap Minggu pagi, ikut Pembahasan Buku Sidang (PBS) setiap Kamis petang, serta ikut menemani istri saya Sekolah Pelayanan Theokratis dan Perhimpunan Dinas setiap Selasa malam.

Seraya berdoa kepada Allah Yehuwa, saya berharap Opi selain teratur belajar Alkitab juga bisa rutin ikut perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa. Seperti Ryan, maupun saya dan istri saya (ibu tiri Opi).

Mulai Membahas ‘Nabi-Nabi Kecil’

ANDAI tidak belajar Alkitab kepada Saksi-Saksi Yehuwa, saya tentu tidak pernah mengenal istilah ‘Nabi-Nabi Kecil’. Terus terang, istilah ini saya dengar pertama kali menjelang mengikuti Perhimpunan Buku Sidang (PBS) Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa.

Beberapa hari sebelum PBS yang saya ikuti di Sidang Solo Selatan Saksi-Saksi Yehuwa tersebut, seorang saudara melalui internet menginformasikan bahwa Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa berisi banyak nasihat praktis yang berguna dalam kehidupan kita. “Semuanya bersumber dari firman terilham yang ditulis oleh ‘Nabi-Nabi Kecil’,” tulis saudara tersebut dalam komentarnya di blog saya ini, 2 Agustus 2008 lalu.

Saya kemudian mulai membuka-buka Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa, beberapa hari sebelum PBS perdana dengan menggunakan buku ini, Kamis (7/8/2008). O ya, PBS Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa dilaksanakan setelah PBS Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan! selesai sepekan sebelumnya, Kami (31/7).

Pada halaman tujuh buku yang diterbikan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia tersebut dijelaskan bahwa ada bagian dalam Alkitab yang nyaris tak terjamah oleh banyak orang, padahal ada harta di sana. Bagian itu adalah 12 buku yang sering disebut Nabi-Nabi Kecil, yang dalam Akitab terletak setelah buku-buku lebih besar —Yehezkiel dan Daniel— dan sebelum Injil Matius. Adapun urutan yang umum untuk buku-buku itu adalah ; Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.

(Belakangan, setelah searching di internet, saya temukan definisi Nabi-Nabi Kecil dari Wikipedia Indonesia, yang tak beda dengan definisi dalam Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa. Bahwa Nabi-Nabi Kecil adalah suatu bagian dalam Kitab Suci Ibrani, yang juga dikenal oleh orang Kristen sebagai Perjanjian Lama….).

Wikipedia Indonesia juga menyebut bahwa istilah “kecil” di sini menunjuk kepada panjang kitab-kitab tersebut, bukan kedudukannya yang penting atau tidak. Tak beda dengan penjelasan dalam Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa, bahwa sesungguhnya nama Nabi-Nabi Kecil seperti digunakan dalam banyak bahasa hanyalah menunjukkan bahwa 12 buku ini lebih pendek daripada beberapa buku lain dalam Alkitab.

Berdasar pengertian itu, Saksi-Saksi Yehuwa mengingatkan bahwa panjang-pendeknya sebuah buku Alkitab tidak menunjukkan seberapa penting atau bernilainya buku itu bagi kita. Dengan kata lain, semua buku dalam Alkitab sama penting nilainya, tak soal buku itu panjang atau pendek.

Sebagai salah satu contoh bahwa buku Alkitab meski pendek namun tetap penting, di bagian akhir Alkitab kita akan menemukan Buku Yudas. Buku ini sangat pendek, bahkan dalam beberapa cetakan Alkitab tidak sampai satu halaman.

“Namun, alangkah tak ternilainya informasi dan bimbingan yang terdapat di dalamnya : cara Allah berurusan dengan para malaikat fasik, peringatan tentang orang-orang bejat yang menyusup ke dalam sidang, dan desakan untuk berjuang keras demi iman,” demikian dijelaskan Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa pada halaman delapan.

Sama halnya dengan Nabi-Nabi Kecil. Meski relatif pendek, isi Nabi-Nabi Kecil bahkan memuat harta yang sungguh bermanfaat untuk menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup dewasa ini. Hal tersebut sesuai isi 2 Timotius 3 :16 bahwa, “Segenap Tulisan Kudus diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menegur, untuk meluruskan perkara-perkara, untuk mendispilin dalam keadilbenaran.”

Perhimpunan yang Sunyi…

isyarat-386.jpg

PERHIMPUNAN yang sunyi. Sepanjang perhimpunan yang berlangsung Minggu (3/8) pagi mulai pukul 09.15 WIB itu hampir tak ada suara manusia, meski perhimpunan dihadiri 31 saudara-saudari yang terdiri atas 17 orang Saksi-Saksi Yehuwa dan 14 orang peminat pelajaran Alkitab.

Sunyi, bukan karena para hadirin perhimpunan di Ruko Mangga Dua Blok B2 No 3-5, Jl Jagir Wonokromo, Surabaya, ini tak bergairah berhimpun. Mereka sangat bersemangat dan bergairah. Sunyi, karena mereka adalah peserta perhimpunan Sidang Bahasa Isyarat Saksi-Saksi Yehuwa Wonokromo Surabaya.

Sidang berbahasa isyarat adalah istilah lain untuk sidang bagi para penderita tuna rungu. Karena peserta-peserta perhimpunan —khususnya para peminat— merupakan orang-orang tuna rungu, maka perhimpunan pun dilaksanakan menggunakan bahasa isyarat. Termasuk ketika mereka menyanyi, melantunkan lagu-lagu rohani dari Buku Nyanyikanlah Pujian bagi Yehuwa.

Karena itulah perhimpunan tersebut sunyi. Terdengar suara hanya ketika iringan musik dari kaset disetel; para hadirin menyanyi menggunakan tangan sebagai bahasa isyarat, bukan memakai mulut.

isyarat2-386.jpg

Hari Minggu (3/8/2008) itu untuk kali pertama perhimpunan sidang bahasa isyarat di Wonokromo diselenggarakan Minggu pagi, yaitu setelah selesai perhimpunan biasa (nonbahasa isyarat) di tempat yang sama. Sebelumnya, perhimpunan mereka dilaksanakan Minggu sore.

Menurut Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Bahasa Isyarat Wonokromo, Saudara Andreas Guritno, dalam sepekan perhimpunan diselenggarakan dua kali. Minggu pagi (Khotbah Umum, Pelajaran Majalah Menara Pengawal, dan Sekolah Pelayanan Theokratis), serta Rabu petang pukul 18.15 WIB (Pembahasan Buku Sidang/PBS dan Perhimpunan Dinas).

“Hari Minggu, setelah selesai perhimpunan, dilakukan pemusatan dinas,” jelas mantan penatua Sidang Dukuh Kupang Surabaya ini kepada saya sebelum perhimpunan dimulai, Minggu (3/8) pagi lalu.

isyarat-dari-belakang-386.jpg

Perhimpunan bahasa isyarat yang saya hadiri, Minggu (3/8) pagi itu, dibuka dengan doa oleh Saudara Yosia. Adapun Sekolah Pelayanan Theokratis dipimpin Saudara Donie Lesmana, dan Pelajaran Menara Pengawal dipandu Saudara Andreas bersama Saudara Herman Supardi.

Saya sungguh terharu melihat kesungguhan para saudara dan saudari yang tuna rungu tersebut untuk beribadat sekaligus menyenangkan Yehuwa. Seperti halnya saudara-saudari yang normal, mereka yang cacat jasmani karena tidak bisa mendengar dan tak bisa bicara itu, misalnya, tampak bersemangat memberikan komentar tatkala mengikuti Pelajaran Menara Pengawal.

isyarat1-386.jpg

Selama pelajaran berlangsung, mereka membuka-buka Alkitab masing-masing maupun Majalah Menara Pengawal edisi 15 Mei 2008, khususnya halaman 21 sampai 25. Mereka diajak Saudara Guritno dan Saudara Supardi bersama-sama membahas tentang materi berjudul ‘Buatlah Kemajuan Rohani dengan Mengikuti Teladan Paulus’.

PBS, dengan Buku yang Baru


PADA hari Kamis (31/7/2008) petang lalu, seperti biasa, saya mengikuti Pembahasan Buku Sidang (PBS) Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan! bersama Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Solo Selatan. Ini adalah perhimpunan PBS Wahyu yang terakhir, karena buku tersebut memang selesai dibahas pada Kamis pukul 18.00 WIB-19.00 WIB itu.

Saat perhimpunan menjelang ditutup dengan doa bersama, Sekretaris Penatua Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Solo Selatan, Saudara Supardiono, mengumumkan bahwa mulai Kamis pekan depan (7/8/2008) PBS akan menggunakan buku baru. Itulah Buku Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa.

Bagi saya pribadi, pengumuman itu melengkapi pengetahuan yang sudah saya peroleh sebelumnya melalui sebuah blog milik seorang Saksi Yehuwa di Jakarta. Pada Jumat, 22 Februari 2008 silam, saudara itu sudah merilis jadwal baru PBS setelah PBS Wahyu berakhir. Informasi yang sungguh baik dan bermanfaat.

PBS di Sidang Saksi-Saksi Yehuwa Solo Selatan mendatang, yang dimulai 7 Agustus 2008, kemungkinan akan berakhir pada awal Februari 2009. Berarti sekitar tujuh bulan. Sekarang saya sedang menyiapkan diri untuk mengikuti PBS dengan buku baru tersebut. Semuanya demi menyenangkan Yehuwa.

Libur dan Cuti yang Nyaris Sempurna

sancaka1.JPG

HARI Jumat (1/8/2008) pagi pukul 08.15 WIB saya berada dalam Sepur Sancaka, yang membawa saya kembali ke Surabaya dari Solo untuk pekerjaan duniawi. Sebelumnya, selama tiga hari-empat malam —Selasa dini hari sampai Jumat pagi— saya berada di kota asal saya, Solo, untuk libur dan cuti.

Libur dan cuti yang nyaris sempurna. Selama di Solo, saya bisa mengikuti tiga corak perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa sekaligus, yaitu menemani istri saya menjalani Sekolah Pelayanan Teokratis dan Perhimpunan Dinas (Selasa petang), serta Pembahasan Buku Sidang (PBS) Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan! (Kamis petang).

Tiga corak perhimpunan itu dilaksanakan di Sidang Saksi-Saksi Yehuwa Solo Selatan di Kaliwingko, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Biasanya jika di Solo saya hanya bisa mengikuti PBS, karena jatah libur ari kantor saya di Surabaya hanya sehari dalam sepekan, dan selalu saya ambil Kamis untuk pulang ke Solo.

Libur dan cuti yang nyaris sempurna. Selain kegiatan-kegiatan rohani, selama tiga hari penuh saya juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan duniawi seperti mengantar istri belanja, dan mengantar-jemput sekolah anak-anak saya : Oppy, yang bersekolah di SMPN 3 Solo kelas III, dan Ryan di kelas I SMPN 22 Solo. Juga, membantu beberapa urusan warung makan istri saya.

Libur dan cuti yang nyaris sempurna. Ya, hanya nyaris sempurna, belum sempurna. Karena, pada hari terakhir libur dan cuti saya, Kamis (31/7/2008), saya ternyata lupa pergi ke warnet untuk mengupdate blog saya ini, untuk posting ayat harian !

Saya baru ingat bahwa saya tak posting ayat Alkitab itu pada Jumat (1/8/2008) subuh tatkala bangun tidur. Saya benar-benar kecewa. Karena, sepanjang Kamis pagi sampai sore saya sudah menjadwalkan diri saya akan ke warnet, Kamis malam. Bahkan saya sudah menyalin isi ayat harian untuk Kamis, dari Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 yang diterbitkan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, saya salin ke ponsel supaya mudah memindahkannya ke komputer saat di warnet.

Ternyata saya kelupaan ! Entah karena saya yang memang kebangeten, atau memang karena setan-si iblis memang pintar membuat orang teledor, ceroboh, dan lupa. Apapun, yang pasti, saya tak bisa memenuhi target posting satu ayat sehari, dan terpaksa posting dua ayat sekaligus pada hari Jumat (1/8/2008) ini….

Ayo Berkomentar !

SEBUAH nasihat pendek-tetapi-penting disampaikan oleh Saudara T Samosir, Pengawas Wilayah (PW) Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, kepada para anggota Sidang Solo Selatan Saksi-Saksi Yehuwa. Tatkala mengawali khotbah dinasnya pada perhimpunan Kamis (24/7) petang lalu, Saudara Samosir mengingatkan perlunya para anggota sidang ikut menyumbang komentar.

Mereka, para anggota sidang, perlu berkomentar saat mengikuti Pelajaran Menara Pengawal atau Pembahasan Buku Sidang (PBS), misalnya, karena komentar itu merupakan korban-pujian bagi Allah Yehuwa. Menurut Saudara Samosir, hal ini selaras dengan nasihat Rasul Paulus kepada orang-orang Ibrani seperti tertuang dalam Alkitab, khususnya Kitab Ibrani Pasal 13 ayat 15 dan 16.

Catatan Paulus dalam ayat 15 tersebut berbunyi, ”Melalui dia, biarlah kita selalu mempersembahkan korban pujian kepada Allah, yaitu buah-buah bibir yang membuat pernyataan tentang namanya di hadapan umum.”

Jadi, “Dengan memberikan komentar berarti kita sudah mempersembahkan korban pujian bagi Yehuwa sehingga membuat senang Dia,” tegas Saudara Samosir.

Selain itu, tambahnya, dengan saling ikut memberikan komentar saat berhimpun, berarti para anggota sidang berbagi perkara-perkara yang baik. Ini sesuai isi ayat 16 Ibrani Pasal 13, “Lagipula, jangan lupa melakukan apa yang baik, dan berbagi dengan orang-orang lain, karena Allah senang akan korban-korban yang demikian.”

Saya sendiri meski belum menjadi Saksi-Saksi Yehuwa —peminat pelajaran Alkitab yang belum dibaptis— selalu berusaha ikut menyampaikan komentar. Baik saat ikut berhimpun Minggu pagi di Sidang Wonokromo Surabaya, maupun ketika ikut PBS Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan! di Sidang Solo Selatan. Saya juga selalu mendorong istri dan anak ragil saya, Ryan, ikut berkomentar pula. Semuanya demi menyenangkan Allah Yehuwa….

Tirulah Timotius !

pw-untuk-kotbah-386-1.jpg

TIRULAH Tomitus ! Demikianlah salah satu poin penting yang disampaikan Saudara T Samosir saat berkhotbah dinas pada Perhimpunan Sidang Solo Selatan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, Kamis (24/7) petang setelah Pembahasan Buku Sidang (PBS) Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan!

Pengawas Wilayah (PW) Saksi-Saksi Yehuwa tersebut, saat itu memberikan khotbah berjudul ‘Kaum Muda, Apakah Cita-cita Kalian Akan Menghasilkan Kesuksesan?’ Sesuai judulnya, khotbah ini memang ditujukan terutama kepada kaum muda Kristen.

Sebagaimana diketahui, Timotius adalah murid Rasul Palulus yang banyak dipuji. Mengenai pentingnya sosok Timotius sebagai model kesuksesan bagi kaum muda, Saudara Samosir meminta para peserta perhimpunan membuka Kisah Para Rasul Pasal 16 ayat 1 dan 2 dalam Alkitab.

Ayat satu pasal itu menyebutkan, “Maka, tibalah ia di Derbe dan juga di Listra. Dan, lihat! di sana ada seorang murid bernama Timotius, putra seorang wanita Yahudi yang percaya tetapi bapaknya seorang Yunani.”

Sedangkan menurut ayat dua, “dan dia dilaporkan baik oleh saudara-saudara di Listra dan Ikonium,” ujar Saudara Samosir. Dia menekankan pembacaan ayat itu pada frase ‘dilaporkan baik oleh saudara-saudara di Listra dan Ikonium’.

“Coba renungkan, Timotius dipuji oleh saudara-saudari dari dua sidang. Tidakkah kalian, kaum muda di Sidang Solo Selatan ini, juga ingin dipuji oleh dua sidang lain, atau bahkan lebih,” tegasnya.

Mengapa Timotius banyak dipuji alias ‘dilaporkan baik’? Menurut Saudara Samosir, ada empat penyebab. Satu, karena dia melakukan pengabdian yang saleh. Kedua, karena Timotius bersikap penuh kasih kepada saudara-saudari di sidang. Ketiga, karena rendah hati. “Keempat, dia melayani Allah Yehuwa dengan sepenuh hati,” papar Saudara Samosir.

Selain harus meniru Timotius sebagai salah satu poin penting agar kaum muda dapat menggapai kesukesan, Saudara Samosir juga menyebut dua poin penting lain. Yaitu, harus memiliki sudut pandang yang sama dengan Yehuwa, dan menetapkan atau menentukan cita-cita sejak sekarang.

“Menetapkan cita-cita kalian menjadi Saksi-Saksi Yehuwa, dengan berbakti dan terbaptis, tentu ada tantangannya. Tapi harus diingat, kalian menjadi Saksi-Saksi Yehuwa atau bukan, pasti ada tantangan,” tegasnya.

Bagaimana cara menghadapi tantangan itu? Saudara Samosir kembali mengutip Alkitab, kali ini Amsal Pasal 3 ayat 5 dan 6. Menurut ayat 5, “Percayalah kepada Yehuwa dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri”. Sedangkan ayat 6 menyatakan, “Dalam segala jalanmu, berikanlah perhatian kepadanya, dan ia akan meluruskan jalanmu.”

“Jadi, kalian bisa menghadapi tantangan itu dengan percaya kepada Yehuwa sepenuh hati, percaya 100 persen. Harus fokus melayani Yehuwa, sebagaimana dulu pernah dilakukan Yesus Kristus,” papar Saudara Samosir.

Antara PTC dan UPN

distrik-jatim-2008-downtown-oke-baru.jpg

HARI Jumat sampai Minggu (18 Juli 2008-20 Juli 2008), di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC), lantai satu Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya, berlangsung Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa Jatim 2008. Tahun lalu, kebaktian serupa para pengikut Yesus Kristus ini juga dilaksanakan di sana.

Saya ikut hadir di kegiatan rohani bertema ‘Dibimbing oleh Roh Allah’ tersebut, meski hanya Sabtu dan Minggu. Itupun cuma dari pagi sampai pukul 12.10 WIB, saat break; tak sampai selesai (acara selesai pukul 16.55 WIB pada Jumat dan Sabtu, serta pukul 16.00 WIB pada Minggu).

Tentu ada alasan yang baik mengapa saya tak bisa ikut secara full. Penyebabnya, saya sudah mengikuti Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa tiga hari penuh di Yogyakarta, 27 Juni 2008-29 Juni 2008 lalu. Tempatnya di Auditorium Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Ring Road Utara, Condongcatur. Kala itu, saya ambil cuti tiga hari dari kantor, plus sehari jatah libur rutin.

Jadi, kebaktian di PTC Surabaya bagi saya boleh dikata merupakan ‘kebaktian-ulangan’. Hari Jumat saya tidak bisa datang ke PTC karena masih dalam perjalanan dari Solo (kota asal saya) menuju ke Surabaya (kota tempat kerja saya) naik Kereta Api Sancaka; berangkat Jumat pukul 08.15 WIB, tiba di Surabaya menjelang pukul 13.00 WIB. Sabtu dan Minggu saya hanya ikut setengah hari karena setelah kebaktian saya langsung ngantor, bekerja.

Apa persamaan dan perbedaan acara di PTC Surabaya dengan di UPN Yogyakarta? Persamaannya, tentu saja, pada materi dan jadwal acara yang memang seragam di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Misalnya, kesamaan nyanyian yang digunakan, judul khotbah, dan drama rohani berdasar Alkitab (berjudul Jangan Tinggalkan ‘Kasihmu yang Mula-mula’.).

Perbedaannya, antara lain, pada jumlah hadirin. Di PTC, hadirin pada puncak acara, Minggu (20/7/2008) sebanyak 2.945 Saksi-Saksi Yehuwa (Saksi-Saksi Allah) dan peminat pelajaran Alkitab; di UPN, puncak acara, Minggu (29/6/2008), dihadiri 2.481 orang.

Jumlah peserta baptisan juga berbeda. Di UPN, ada 51 saudara dan saudari yang dibaptis menjadi Saksi-Saksi Yehuwa; di PTC sebanyak 43 saudara dan saudari.

Perbedaan lain, soal tempat. Kegiatan di Surabaya dilaksanakan di gedung pertemuan full ACconvention center— bagian dari sebuah pusat pebelanjaan nan mewah dan megah, membuat nyaman para hadirin; di Yogya, di auditorium sebuah kampus swasta yang tidak memakai AC, sehingga para hadirin menahan sumuk alias gerah.

Namun, meski gedung yang dipakai tak ber-AC, para peserta kebaktian di UPN sama tertib dan sama berhikmatnya dengan para hadirin di PTC. Memang itulah sebagian ciri-ciri positif Saksi-Saksi Yehuwa di seluas dunia. Bahkan sampah makanan pun tak dibuang di tempat-tempat sampah sekitar tempat kebaktian, demi menjaga kebersihan selama dan setelah kebaktian.

Senang, Dibimbing Roh Allah

SUPERMALL Surabaya Convention Center (SSCC), di lantai satu Pakuwon Trade Center (PTC), Surabaya, kembali dipakai sebagai tempat Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa Jawa Timur (Jatim). Untuk tahun 2008, kebaktian distrik diselenggarakan Jumat (18/7) sampai Minggu (20/7), tiga hari, pagi hingga sore.

distrik-jatim-2008-edit.jpg

distrik-jatim-2008-lagi-edit.jpg

distrik-jatim-2008-logo-oke.jpg

Puncak hadirin kebaktian bertema ‘Dibimbing oleh Roh Allah’ ini terjadi pada hari Minggu. Tercatat ada 2.945 orang Saksi-Saksi Yehuwa dan peminat pelajaran Alkitab yang hadir. Mereka datang tak hanya dari berbagai sidang di Jatim tetapi sebagian kecil juga dari Kota Solo, Jawa Tengah, dan kota-kota lain di luar Jatim.

Mereka Dibaptis…

 baptis-jatim3-oke1.jpg

SEBANYAK 43 saudara dan saudari dari berbagai kota Jatim resmi menjadi Saksi-Saksi Yehuwa, Sabtu (19/7) siang. Mereka dibaptis sebagai Saksi-Saksi Yehuwa pada hari kedua Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa Jatim 2008, di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC), Pakuwon Trade Center (PTC), Surabaya.

Usia para rohaniwan terlantik Yehuwa yang baru tersebut beragam : termuda 12 tahun, dan paling tua 75 tahun. Mengenai usia tertua ini, Saudara Yulius Jaka Suprapto —penatua yang menyampaikan khotbah baptis— menjadikannya sebuah contoh bahwa memang  tidak selalu mudah bagi seseorang untuk membuat perobahan.

“Namun pembaptisan ini sekaligus menjadi contoh bahwa 43 saudara dan saudari telah berhasil melakukan perobahan sampai dengan pembaktian sepenuhnya kepada Allah Yehuwa dengan dibaptis,” paparnya di hadapan para hadirin,  pengikut-pengikut Yesus Kristus yang hidup selaras dengan Alkitab, yang berjumlah 2.421 orang.

Pada kebaktian bertema ‘Dibimbing oleh Roh Allah’ ini Saudara Suprapto juga mengingatkan peran penting Roh Kudus dalam proses pembaktian hingga pembaptisan para anggota Saksi-Saksi Yehuwa yang baru tersebut. Setelah dibaptis, katanya, 42 saudara-saudari itu terlibat aktif dalam pengajaran dan pengabaran kabar baik tentang Kerajaan Allah dengan tetap didukung dan dibantu oleh Roh Kudus.

“Pembaptisan bukan akhir dari kegiatan saudara-saudari. Ini momen penting dan serius yang sangat membahagiakan. Setelah dibaptis, hidup saudara-saudari bukan lagi milik sendiri melainkan milik Yehuwa. Bertekadlah terus berpihak kepada Yehuwa. Untuk itu perlu dukungan Roh Kudus sepenuhnya,” tegas Saudara Suprapto.

Halaman Berikutnya »