3
Januari
2009

PAS Perdana di Awal 20092

buku-pbs430.jpg

SAYA dan keluarga mengawali tahun 2009 dengan kegiatan rohani berupa Perhimpunan Pelajaran Alkitab Sidang (PAS) perdana, yang digabung dengan Sekolah Pelayanan Teokratis (SPT) dan Perhimpunan Dinas (PD). Tiga corak perhimpunan ini saya ikuti pada Kamis (1/1/2009) petang lalu.

Seperti biasa, perhimpunan tersebut  dilaksanakan Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Solo Selatan, di Kaliwingko, Grogol, Solo Baru. Mendung menggantung ketika perhimpunan dimulai, pukul 17.30 WIB, dan turun hujan gerimis beberapa saat kemudian. Sampai perhimpunan selesai, pukul 19.00 WIB lebih, gerimis belum reda.

Untuk PAS perdana, kami melanjutkan pembahasan sebelumnya sepekan lalu, yaitu mulai membahas Pasal 12 Buku Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa. “Tetaplah Menantikannya”, demikian pelajaran judul Pasal 12 yang dipimpin Saudara Rudy Hartanto, penatua Sidang Solo Selatan. Inti pelajaran PAS perdana itu, kita —hamba-hamba Yehuwa— perlu menanti-dengan-benar kedatangan Hari Yehuwa….

PAS perdana? Betul. Sebagaimana diketahui, sesuai instruksi organisasi, istilah yang dipakai mulai Januari 2009 adalah PAS, menggantikan Pelajaran Buku Sidang (PBS). Saya ikut PAS, SPT dan PD bersama istri dan dua anak laki-laki saya, Opi dan Ryan.

11
Desember
2008

Berenang, Seusai Berhimpun0

 renang-lagi400.jpg

MENGISI hari libur dengan berenang masih menjadi salah satu menu favorit anak-anak saya. Maka begitulah, saat hari libur, Minggu (7/12/2008) lalu, anak ragil saya, Ryan, mengajak ke GOR Bengawan. GOR di kawasan Sekarpace, Jebres, Solo, Jateng, ini memiliki fasilitas kolam renang.

Saat itu gerimis, tapi Ryan tak peduli. Akhirnya kami pergi berempat : saya, Ryan dan kakaknya, Opi, serta keponakan saya, Jibran Sobron. Kami berangkat sekira satu jam sesudah mengikuti perhimpunan Minggu pagi Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Solo Selatan di Kaliwingko, Solo Baru.

Setiba di kolam renang, sekira pukul 11.00 WIB, setelah mencopot kaos dan melepas sendal masing-masing, Ryan dan Jibran langsung nyebur ke bagian yang dangkal. Opi tak segera masuk kolam renang, dengan berdalih masih merasa dingin.

Tak berapa lama, gerimis berubah menjadi hujan lebat. Namun Ryan dan Jibran tetap tak peduli. Mereka terus berada dalam kolam renang. Hampir satu jam kemudian, hujan mulai reda. Opi pun menyusul Ryan dan Jibran ke kolam renang.

renang-makan-lagi400.jpg

Beberapa saat kemudian setelah itu adalah “ritual” standar : makan siang di cafe di dekat kolam renang. (Kali ini Ryan memilih soto ayam, sedangkan Opi dan Jibran mie goreng telor. Mereka tampak asyik menikmati makanan panas tersebut). Seusai makan siang —setelah Opi, Ryan dan Jibran bilas sekaligus keramas— kami pun pulang.

17
Oktober
2008

Tidur dalam Kematian…1

turut-berduka-cita400.jpg

HARI Selasa (14/10/2008) lalu, saya ambil libur, kemudian pulang dari tempat bekerja, Surabaya, ke Solo. Sejatinya, libur rutin saya setiap pekan adalah Kamis. Saat itu saya menggeser libur bekerja dari Kamis ke Selasa karena perlu melayat salah seorang famili dari Jakarta yang dimakamkan di Solo, kota tempat tinggal saya dan keluarga.

Saya tak akan bercerita tentang siapa yang meninggal dunia tersebut. Saya hanya ingin bercerita bahwa setiap kali pergi melayat, saya antara lain menjadi teringat tentang kisah seputar kematian teman baik Yesus Kristus, Lazarus, sebagaimana tercantum dalam Alkitab.

“Lazarus, sahabat kita, telah pergi beristirahat…,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya, ketika mendengar kabar Lazarus meninggal.

Perkataan Yesus itu dikutip dalam Yohanes 11 ayat 11. “…tetapi aku mengadakan perjalanan ke sana untuk membangunkan dia dari tidur,” sambung Yesus.

Statement Yesus menunjukkan bahwa Dia menyamakan kematian dengan istirahat, dengan tidur. Dengan demikian, Lazarus tidak berada si surga, ataupun di neraka yang menyala-nyala; tidak sedang bersama para malaikat atau leluhurnya. Ia sedang beristirahat dalam kematian, seolah tidur nyenyak tanpa bermimpi….

Ayat-ayat lain dalam Alkitab juga menyamakan kematian dengan tidur. Di antaranya, Kisah Para Rasul Pasal 7 ayat 60, yang berkisah tentang murid Yesus, Stefanus, yang dilempari batu sampai mati.

Kitab Ibrani (a.k.a. Perjanjian Lama) juga menjelaskan tentang kondisi seseorang yang meninggal. Misalnya, Pengkhotbah Pasal 9 ayat 5, yang menyebutkan bahwa orang mati sama sekali tidak sadar akan apapun. Hal ini berarti orang mati sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi.

Kembali ke kisah Lazarus. Menurut Alkitab, selain menyamakan kematian Lazarus dengan tidur, Yesus juga membangunkan almarhum sahabatnya tersebut dari istirahat panjang. Lazarus, yang sudah meninggal selama empat hari, dibangkitkan kembali oleh Yesus dengan kuasa Allah Yehuwa, yaitu setelah Dia berdoa kepada Yehuwa.

“Lazarus, marilah keluar!” seru Yesus dengan suara keras.

Larazus, dengan kaki dan tangan masih terikat pembungkus, serta wajah terbalut kain, pun keluar dari makamnya. “Lepaskanlah pembungkusnya, dan biarkan dia pergi,” lanjut Yesus seperti dicatat dalam Yohanes 11:44.

Bukan kali itu saja Yehuwa menggunakan kuasa-Nya untuk membangkitkan orang mati. Kebangkitan Lazarus hanya satu di antara sembilan mukjizat kebangkitan yang dicatat dalam Firman Allah.

Membaca dan mempelajari kisah-kisah tersebut membuat kita bersukacita. Kebangkitan Lazarus juga mengajar kita bahwa kebangkitan benar-benar terjadi, bukan hanya dongeng. Karena, kala itu Yesus membangkitkan Lazarus di hadapan banyak saksi mata….

10
Oktober
2008

Kebaktian Istimewa 2008 dalam Foto0

kebaktian-istimewa-juniantosetyadi400.jpg

kebaktian-istimewa-suasana400.jpg

kebaktian-istimewa-mama-dll400.jpg

kebaktian-istimewa-ryan-dll400.jpg

kebaktian-istimewa-bayi400.jpg

kebaktian-istimewa-sdr-sdri400.jpg

KEBAKTIAN Istimewa 2008 Saksi-Saksi Yehuwa Surakarta diselenggarakan pada Minggu (5/10/2008), pukul 09.40 WIB sampai 15.55 WIB. Kegiatan rohani di Auditorium Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kentingan, Jebres, ini dihadiri 567 hadirin dari Kota Solo dan sekitarnya.

Selaku peminat pelajaran Alkitab, saya dan keluarga hadir dalam ibadat rutin setiap tahun tersebut. Beberapa saat menjelang kebaktian, saya ambil beberapa foto; saat break untuk makan siang dan saling bergaul, saya kembali memotret sana-memotret sini. Sebagian hasilnya bisa dinikmati pada bagian atas naskah pendek ini.

3
Oktober
2008

Berlibur, Lihat Luapan Lumpur2

lapindo400.jpg

DUA anak saya, Aik dan Opi, sama-sama libur. Aik libur bekerja, Opi libur sekolah. Maka, saya minta mereka menyusul (dari kota tempat tinggal keluarga saya, Solo)  ke kota tempat saya bekerja, Surabaya.

Sejak saya bekerja di Surabaya empat tahun silam —setelah dimutasi dari Jakarta— baru sekarang dua dari tiga anak saya tersebut datang ke Kota Buaya ini. Adapun anak ragil saya, Ryan, terpaksa tetap tinggal di Solo. Setelah disunat, Senin (22/9/2008) lalu, Ryan belum bisa bepergian jauh.

Aik dan Opi tiba di Surabaya pada Selasa (30/9/2008) siang, naik Sepur Sancaka dari Solo. Saya jemput mereka ke Stasiun Wonokromo, Surabaya, yang berlokasi tak begitu jauh dari kantor saya.

Selama di Surabaya, saya inapkan mereka di sebuah hotel kecil di Jl Ahmad Yani, yang juga cukup dekat dengan kantor saya. Saat Aik dan Opi tiba, mereka tidak saya bawa njujug hotel tersebut melainkan saya ajak dulu ke kantor.

opi-aikjembatan400.jpg

Karena hari libur nasional, Lebaran, kantor saya amat-sangat sepi. Hanya ada dua Satpam dan seorang kawan laki-laki yang kebetulan memilih tidak pulang kampung ke rumah orangtuanya meski libur dua hari.

Sepanjang Selasa, Ariani Setyowati dan Okky Surya Setyapamungkas —nama lengkap Aik dan Opi— lebih banyak berada di kantor. Selain melihat televisi, mereka juga menggunakan komputer di meja kerja saya untuk browsing internet.

Selasa pukul 18.00 WIB, saya ajak mereka ikut Pelajaran Buku Sidang (PBS) Buku Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa bersama Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Wonokromo Surabaya. Dua jam kemudian, kami kembali ke kantor.

Hari Rabu (1/10), saya ajak Aik dan Opi ke kawasan Porong, Kabupaten Sidoarjo, menyaksikan keganasan lumpur panas Porong, yang lebih populer dengan sebutan lumpur panas Lapindo. Selama ini Aik dan Opi hanya mendengar tentang bencana tersebut dari media massa maupun dari cerita saya.

opi-aiklumpur400.jpg

Menyaksikan ‘wisata lumpur’, kami dikutip Rp 10.000 oleh warga setempat —para korban lumpur Lapindo— untuk ongkos masuk dua sepeda motor. Aik dan Opi tampak nggumun dan kaget tatkala  menyaksikan langsung bencana yang merugikan banyak warga tersebut.

Selain ke Porong, saya juga mengajak mereka ke Tunjungan Plaza. Sekadar jalan-jalan, tak membeli barang apapun, kemudian makan bersama di salah satu restoran siap-saji di sana. Opi tampak menikmati ‘wisata kuliner’ ini. Terbukti, dia habis dua porsi makanan berbeda, ditambah segelas besar soft drink dan segelas kecil es krim….

opi-aikmakan400.jpg

Hari Jumat (3/10) pukul 11.15 WIB, mereka meninggalkan Surabaya, kembali ke Solo naik bus Patas. Selama Aik dan Opi on the way ke Solo, saya beberapa kali menelepon dan mengirim SMS ke ponsel Aik, menanyakan keberadaan mereka. Sampai kemudian, pukul 18.00 WIB, SMS Aik masuk ponsel saya. “Kami sudah sampai Solo, Pak,” tulis Aik via SMS.

Saya lega. Berkat Allah Yehuwa, mereka tiba dengan selamat di Solo. Saya bersyukur, berkat Yehuwa saya bisa mengajak Aik dan Opi berlibur ke luar kota. Saya bersuka-cita atas semua berkat-Nya, termasuk berkat berupa kesehatan, sehingga Sabtu (4/10) malam saya akan bisa pulang ke Solo, untuk mengikuti Kebaktian Istimewa Saksi-Saksi Yehuwa pada hari Minggu (5/10), mulai pagi sampai sore….

24
September
2008

Ryan Sunat, Demi Kesehatan4

ANAK bungsu saya, Ryan, 12 tahun, disunat di tempat praktik seorang dokter-umum di Solo, Senin (22/9/2008) sore. Bukan sebuah peristiwa yang penting atau istimewa. Karena, sebagaimana dicatat dalam Alkitab, yaitu 1 Korintus 7 :19, ‘Sunat tidak penting, dan tidak bersunat juga tidak penting….’.

Kalaupun kemudian ada yang terlihat penting, itu karena beberapa jam setelah Ryan disunat, istri saya sepanjang Senin (22/9) malam sampai Selasa (23/9) dini hari tidak bisa tidur nyenyak. Dia berkali-kali terbangun gara-gara rengekan anak kami yang bernama lengkap Delvaryan Ilham Kurniawan itu, yang merasa perih pada “burung”-nya.

Karena saat Ryan sunat saya sedang bekerja seperti biasa di Surabaya, maka istri saya membagi kerepotannya dengan saya melalui ponsel. Dia dari Solo terus-menerus mengirim SMS —kami sengaja tak berbicara di ponsel, agar tak mengganggu Ryan— sampai Selasa (23/9) dini hari.

Kemudian, Selasa (23/9) pagi sekira pukul 10.00 WIB, istri saya mengabarkan bahwa dirinya baru saja mengantar Ryan kontrol ke dokter yang menyunat anak ketiga saya tersebut. Hingga tiga-empat hari mendatang, istri saya mesti pulang-pergi ke tempat praktik sang dokter, demi kesehatan Ryan, anak saya yang kelas I SMPN 22 Solo ini.

(Seperti halnya saat berangkat sunat, selama mengantar kontrol Ryan, istri saya ditemani Saudara Edy Cahyono dan istrinya, Saudari Shinta Edy Cahyono, Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Solo Selatan. Dokter yang menyunat Ryan, dr Haryono, merupakan kenalan keluarga Cahyono).

Benar, demi kesehatan. Menurut sebuah referensi, tujuan utama dari bersunat adalah membersihkan dari berbagai kotoran dan penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis atau zakar yang masih ada kulupnya. Ketika bersunat, kulup yang menutupi jalan ke luar urine dibuang, sehingga kecil kemungkinan kotoran menempel atau berkumpul pada ujung penis jadi. Sebab, penis menjadi lebih mudah dibersihkan.

Sunat juga dapat menghindari timbulnya berbagai penyakit seperti fimosis, parafimosis, kandidiasis, dan tumor ganas maupun pra ganas pada daerah alat kelamin laki-laki. Terbukti pula, penis laki-laki yang disunat lebih higienis sehingga pada masa tua kelak laki-laki —termasuk Ryan, anak ragil saya—  lebih mudah merawatnya.

22
September
2008

Bersyukur, dan Bersyukur …2

bca-ant-390.jpg

BEBERAPA saat lalu, sekira pukul 22.15 WIB, Minggu (21/9/2008), melalui sebuah mesin ATM BCA di Surabaya, saya mentransfer sejumlah uang kepada kakak saya di luar kota. Ini saya lakukan setelah dua hari lalu kakak saya tersebut mengirim saya SMS, yang intinya meminjam uang untuk berobat.

Sepekan sebelumnya, kakak saya yang lain juga perlu uang. Setelah kakak saya berusaha ke sana-kemari tetapi gagal, barulah dia mencari saya. Maka, saya beri dia duit sesuai kebutuhannya.

Saya bukan hendak mengobral kekurangan ekonomi kakak-kakak saya. Juga bukan pamer kelebihan duit saya. Sama sekali bukan.

Saya hanya hendak menunjukkan bahwa fakta seperti itu menjadi salah satu penyebab saya mensyukuri hidup saya pribadi : saat ini, saya tidak dalam posisi seperti mereka, tidak dalam kondisi kekurangan. Saya tidak dalam kondisi meminta bantuan melainkan memberi bantuan. Bukankah kondisi ini patut saya syukuri?

(Apalagi, sebagaimana dikatakan Yesus seperti dicatat dalam Alkitab, khususnya Kisah Para Rasul Pasal 20 ayat 35, ‘lebih bahagia memberi daripada menerima’….).

Itu baru satu hal. Masih banyak hal lain yang menyebabkan saya senantiasa bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Misalnya, Kamis (25/9/2009) nanti anak sulung saya, Ariani Setyowati a.k.a. Aik, akan diwisuda sebagai lulusan D-3 di kampusnya, Universitas 11 Maret Surakarta (UNS) setelah lulus dan beroleh pekerjaan sejak hampir dua bulan lalu.

Belum lagi hal-hal lain, yang bagi orang lain mungkin kelihatan remeh-temeh —karena merupakan kegiatan rutin sehari-hari— seperti kemudahan membeli makanan dan minuman setiap hari, kemudahan mengisi pulsa ponsel setiap kali pulsa akan habis, kemudahan ngeblog, kemudahan…. Juga, tentu saja, kondisi badan yang sehat.

Demikian pula untuk hal-hal yang berkaitan dengan rohani. Antara lain, bisa lancar berhimpun bersama-sama Saksi-Saksi Yehuwa di Surabaya setiap Minggu pagi, dan berhimpun di Solo setiap Kamis petang. Itu sebabnya, layak dan pantas bahwa saya terus bersyukur, bersyukur, dan bersyukur atas semu berkat rohani maupun jasmani dari Allah Yehuwa….

© foto antaraphoto

19
September
2008

Rutinitas Suka-Cita Tiap Kamis2

ryan-opi-makan390.jpg

BANYAK orang suka-cita menunggu kedatangan hari Minggu (dan atau Sabtu) karena merupakan hari libur mereka. Saya tidak. Saya dengan suka-cita selalu menunggu Kamis. Sebab, hari libur kerja saya memang Kamis.

Setiap Rabu malam sekira pukul 21.00 WIB, selesai bekerja, saya cabut dari kantor ke Terminal Bungurasih Surabaya, kemudian baik bus patas meneruskan perjalanan sejauh 272 km ke Solo, pulang ke kota tempat tinggal keluarga saya. Tiba di rumah Kamis dini hari, inilah saat libur rutin setiap pekan dimulai.

Kamis pagi, saya mengantar dua anak saya, Opi dan Ryan, ke sekolah masing-masing : Opi ke SMPN 3 Solo, Ryan ke SMPN 22 Solo. Sesudah itu, saya menghabiskan waktu di rumah, tidur satu-dua jam, kemudian membaca Alkitab dan mempelajari Buku Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa, khususnya materi yang akan dibahas Kamis petang pada Pelajaran Buku Sidang (PBS) bersama Saksi-Saksi Yehuwa Sidang Solo Selatan.

Kamis siang, saya menjemput Opi dan Ryan. Dari sekolah Ryan, kami tak langsung pulang ke sekolah. Saya antar dua anak lanang saya tersebut makan siang di warung makan, saya minta mereka memilih warung makan yang dikehendaki. Biasanya Ryanlah yang memilih warung makan; Opi manut saja.

Kamis (18/9/2008) siang kemarin, misalnya, Ryan memilih warung mie ayam di sebelah selatan Perempatan Ngapeman. Di warung yang terletak di timur jalan ini kami bertiga menghabiskan waktu sekitar 30 menit, baru kemudian pulang. Kamis sepekan sebelumnya, Ryan memilih makan steak di sebuah restoran yang menyediakan mie ayam dan beraneka steak.

Kamis siang sampai petang saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, menikmati makanan rohani —seperti Majalah Menara Pengawal— dan menemani anak-anak saya. Kalaupun harus keluar rumah, itu karena mencarikan sesuatu untuk istri saya, biasanya untuk keperluan warung makannya, Warung Selat Mbak Lies.

Kamis petang, mulai pukul 16.00 WIB, saya, istri saya, bersama Ryan dan Opi mengikuti PBS Hidup Tanpa Melupakan Hari Yehuwa bersama saudara-saudari Saksi-Saksi Yehuwa dan para peminat pelajaran Alkitab.  Setelah itu, sepanjang malam saya habiskan waktu di rumah, sampai Jumat pukul 08.12 WIB saya naik Sepur Sancaka dari Stasiun Solo Balapan menuju ke Surabaya untuk pekerjaan duniawi.

Begitulah rutinitas saya setiap Kamis. Saya sungguh bersyukur kepada Allah Yehuwa atas segala berkat-Nya, karena itulah saya selalu suka-cita menunggu datangnya Kamis, saat rutin bertemu keluarga dan untuk memuliakan nama-Nya melalui perhimpunan PBS.

27
Agustus
2008

Belajar Alkitab, dan Berhimpun4


HARI Minggu (24/8/2008) pagi, anak lanang saya nomor dua, Okky a.k.a. Opi, ikut berhimpun bersama Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Solo Selatan. Bagi Opi, ini adalah perhimpunan pertama setelah dia belajar Alkitab setiap Kamis malam sejak sekira 1,5 bulan lalu.

Saya sungguh bersyukur kepada Allah Yehuwa. Karena, sebelumnya, tak gampang mengajak Opi belajar Alkitab kepada Saksi-Saksi Yehuwa, para pengikut Yesus Kristus tersebut. Anak saya, yang kini kelas III SMPN 3 Solo, itu selalu mengelak dengan berbagai cara.

Sampai kemudian, saat kenaikan kelas, Juli 2008 lalu, terungkap kenakalan Okky Surya Setyapamungkas —nama lengkap Opi— di sekolah. Dia, antara lain, tak membayarkan uang SPP selama delapan bulan, uang biaya darmawisata, dan uang buku.

[Gara-gara kenakalannya itu, saya harus melunasi (lagi) pembayaran sekitar Rp 1,5 juta. Padahal, dulu, saya sudah memberi Opi uang untuk melunasi semua kewajibannya di sekolah. Termasuk uang SPP, yang wajib dibayarkan Opi setiap bulan tetapi ternyata ditilepnya sampai delapan bulan, dan pihak sekolah tak pernah menghubungi saya untuk menanyakan mengapa Opi berbulan-bulan tak membayar SPP!]

Kenakalan Opi, yang menurut saya termasuk luar biasa, itu memicu kemarahan saya. Selain memarahi Opi, saya juga kembali meminta dia belajar Alkitab. Kali ini ternyata dia manut. Maka, anak lanang saya nomor dua tersebut pun belajar Alkitab, setiap Kamis malam, di rumah saya, di Kampung Slembaran, Serengan, Solo, Jawa Tengah.

(Sampai saat saya posting tulisan ini, akhir Agustus 2008, pelajaran Opi sudah sampai pada Pasal 4 Buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? Pasal 4 ini membahas tentang ‘Siapakah Yesus Kristus?’)

Pengajar Opi adalah Saudara Nelson Robby Cahyono, yang juga pengajar Alkitab adik tiri Opi, Ryan. Berbeda dengan Opi, Ryan sudah belajar sejak sekitar dua tahun silam, dan rutin ikut perhimpunan setiap Minggu pagi, ikut Pembahasan Buku Sidang (PBS) setiap Kamis petang, serta ikut menemani istri saya Sekolah Pelayanan Theokratis dan Perhimpunan Dinas setiap Selasa malam.

Seraya berdoa kepada Allah Yehuwa, saya berharap Opi selain teratur belajar Alkitab juga bisa rutin ikut perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa. Seperti Ryan, maupun saya dan istri saya (ibu tiri Opi).