Libur dan Cuti yang Nyaris Sempurna

sancaka1.JPG

HARI Jumat (1/8/2008) pagi pukul 08.15 WIB saya berada dalam Sepur Sancaka, yang membawa saya kembali ke Surabaya dari Solo untuk pekerjaan duniawi. Sebelumnya, selama tiga hari-empat malam —Selasa dini hari sampai Jumat pagi— saya berada di kota asal saya, Solo, untuk libur dan cuti.

Libur dan cuti yang nyaris sempurna. Selama di Solo, saya bisa mengikuti tiga corak perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa sekaligus, yaitu menemani istri saya menjalani Sekolah Pelayanan Teokratis dan Perhimpunan Dinas (Selasa petang), serta Pembahasan Buku Sidang (PBS) Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan! (Kamis petang).

Tiga corak perhimpunan itu dilaksanakan di Sidang Saksi-Saksi Yehuwa Solo Selatan di Kaliwingko, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Biasanya jika di Solo saya hanya bisa mengikuti PBS, karena jatah libur ari kantor saya di Surabaya hanya sehari dalam sepekan, dan selalu saya ambil Kamis untuk pulang ke Solo.

Libur dan cuti yang nyaris sempurna. Selain kegiatan-kegiatan rohani, selama tiga hari penuh saya juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan duniawi seperti mengantar istri belanja, dan mengantar-jemput sekolah anak-anak saya : Oppy, yang bersekolah di SMPN 3 Solo kelas III, dan Ryan di kelas I SMPN 22 Solo. Juga, membantu beberapa urusan warung makan istri saya.

Libur dan cuti yang nyaris sempurna. Ya, hanya nyaris sempurna, belum sempurna. Karena, pada hari terakhir libur dan cuti saya, Kamis (31/7/2008), saya ternyata lupa pergi ke warnet untuk mengupdate blog saya ini, untuk posting ayat harian !

Saya baru ingat bahwa saya tak posting ayat Alkitab itu pada Jumat (1/8/2008) subuh tatkala bangun tidur. Saya benar-benar kecewa. Karena, sepanjang Kamis pagi sampai sore saya sudah menjadwalkan diri saya akan ke warnet, Kamis malam. Bahkan saya sudah menyalin isi ayat harian untuk Kamis, dari Buku Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari – 2008 yang diterbitkan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, saya salin ke ponsel supaya mudah memindahkannya ke komputer saat di warnet.

Ternyata saya kelupaan ! Entah karena saya yang memang kebangeten, atau memang karena setan-si iblis memang pintar membuat orang teledor, ceroboh, dan lupa. Apapun, yang pasti, saya tak bisa memenuhi target posting satu ayat sehari, dan terpaksa posting dua ayat sekaligus pada hari Jumat (1/8/2008) ini….

Tidak Merayakan Ulang Tahun

ultah13.JPG

SEJAK 15 Maret 2008 lalu, setiap Sabtu pagi sampai siang saya ditugasi kantor mengikuti Fundamental Leadership Program yang diselenggarakan Dale Carnegie Course, di Hotel Elmi Surabaya. Kegiatan ini dijadwalkan berakhir 7 Juni 2008, setelah para peserta menjalani 12 kali sesi/pertemuan.  Kini saya sudah melalui delapan sesi.

Satu hal yang membuat saya kikuk saat menjalani pelatihan kepemimpinan ini adalah kebiasaan para trainer mengumumkan dan memberi selamat kepada peserta yang kebetulan berulang tahun. Pasalnya, saya tidak merayakan ulang tahun, baik ulang tahun saya sendiri maupun ulang tahun orang lain.

Mengapa demikian? Sebagai orang yang belajar Alkitab kepada umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa, saya berprinsip bahwa peringatan ulang tahun bukan kebiasaan berdasarkan Alkitab. Karena itulah saya –-sebagaimana Saksi-Saksi Yehuwa di seluas dunia— tidak memperingati atau merayakan hari ulang tahun.

Dasar prinsip itu adalah dua contoh perayaan hari ulang tahun yang tidak diperkenan Yehuwa (Allah), yang disebutkan dalam Alkitab. Pertama, peristiwa mengerikan dalam Kitab Kejadian 40 ayat 20-22 . “Ternyata hari yang ketiga adalah hari lahir Firaun, ia mengadakan pesta…. Maka dikembalikannya pengawas juru minuman pada kedudukannya sebagai juru minuman…. Tetapi pengawas juru roti digantungnya.”

Kedua, kejadian mengerikan dalam Kitab Matius 14 ayat 6-10. “Sewaktu hari lahir Herodes sedang dirayakan, anak perempuan Herodias menari pada kesempatan itu dan begitu menyenangkan hati Herodes sehingga ia berjanji dengan sumpah akan memberikan kepada dia apapun yang dimintanya. Lalu dia, atas petunjuk ibunya, mengatakan, ‘Berikan kepadaku di sini di atas sebuah pinggan, kepala Yohanes Pembaptis.’…. Ia mengutus orang dan menyuruh memancung kepala Yohanes di penjara.” Yohanes Pembaptis adalah tokoh yang membaptis Yesus.

Buku Bertukar Pikiran mengenai Ayat-ayat Alkitab terbitan Saksi-Saksi Yehuwa menjelaskan, segala sesuatu dalam Alkitab ditulis dengan alasan tertentu. Hal tersebut sesuai Kitab 2 Timotius 3 ayat 16 dan 17. Maka, dari dua contoh peristiwa mengerikan terkait perayaan ulang tahun seperti saya kutip di atas itu dapat disimpulkan bahwa Firman Allah memberikan laporan yang tidak menyenangkan tentang perayaan-perayaan ulang tahun. Maka, Saksi-Saksi Yehuwa memperhatikan hal tersebut, dan tak merayakan hari ulang tahun….

Kembali ke soal Fundamental Leadership Program dari The Dale Carnegie Course, yang membuat kikuk setiap kali ada peserta yang berulang tahun. Sejak awal pelatihan, 15 Maret 2008 lalu, sudah ada beberapa peserta yang kebetulan ulang tahun saat pelatihan, dan pihak trainer selalu mengumumkan nama peserta tersebut kemudian mengajak para peserta lain untuk bergantian menyalami seraya mengucapkan selamat ulang tahun.

Paling akhir, saat sesi delapan, Sabtu (17/5/2008) lalu, ada seorang peserta yang berulangtahun, yaitu Dikdik Gunantara (Production Manager PT Supra Alumunium Industri). Selain itu, seorang peserta lain akan ulang tahun sehari kemudian, Minggu (18/5/2008), yakni Eko Purnomo (ARFM PT Mandala Multi Finance).

Dua peserta itu didaulat Lead Trainer Dale Carnegie Course, Esti Hidayat Joseph, dan kawan-kawan untuk maju ke depan kelas. Saat-saat beginilah yang membuat saya benar-benar kikuk. Namun, karena saya telah berprinsip tidak merayakan ulang tahun siapapun –-termasuk tak memberi ucapan selamat— maka saya mencari cara supaya tak melanggar prinsip yang saya anut berdasar Alkitab itu.

Saat para trainer maupun peserta-peserta pelatihan menyalami Dikdik dan Agung seraya mengucapkan selamat ulang tahun, saya menyelinap keluar ruangan di Hotel Elmi Surabaya tersebut. Saya berjalan ke toilet, kencing sekaligus menghindari perbuatan yang melanggar prinsip Alkitab.

Sesudah melihat dari luar bahwa acara salam-salaman telah kelar, saya masuk kembali ke ruangan, melanjutkan mengikuti pelatihan sesi delapan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 12.00 WIB. Jadi,  begitulah cara yang saya pilih untuk menghindarkan saya dari perbuatan yang tak disukai Allah Yehuwa. Harap maklum.

Bersyukur kepada Yehuwa

SAYA senantiasa bersyukur, setiap saat, lantaran diberi Allah Yehuwa kehidupan yang baik sekaligus menyenangkan. Bagaimana tak menyenangkan, jika pagi dan sore hari, misalnya, untuk mandi saya tak perlu bersusah-payah mencari maupun menimba air. Makan pun tak kesulitan.

Santapan rohani, di samping makanan jasmani, juga melimpah. Mulai dari Majalah The Watch Tower alias Menara Pengawal, Sedarlah!, sampai publikasi-publikasi tertulis lain semisal buku setebal 192 halaman berjudul Mari Jadilah Pengikut-Ku.
watch_towerhcp-50.GIF
Betapa menyenangkan, karena setiap hari –-meski saya ‘berumah’ di kantor— saya leluasa melakukan kegiatan-kegiatan rohani. Mulai dari membaca Alkitab, menikmati aneka jenis santapan rohani yang disediakan Organisasi, sampai mengisi blog bernapaskan rohani milik saya ini.

Alangkah menyenangkan, lantaran setiap Kamis saya bisa pulang dari Surabaya ke Solo. Libur kerja sekaligus menemani istri dan anak mengikuti pembahasan Pelajaran Buku Sidang (PBS) Wahyu – Klimaksnya yang Menakjubkan! bersama Saksi-Saksi Yehuwa dan para peminat.

Benar-benar menyenangkan, sebab setiap Minggu pagi saya bisa mengikuti perhimpunan secara tetap-tentu di Surabaya. Selain itu, saya pun dapat mengikuti perhimpunan-perhimpunan berskala besar seperti Kebaktian Istimewa di Solo.

kebaktian-istimewa-solo-23.JPG

Tapi, memang, tak ada yang sempurna di dunia ini [yang terjadi karena ketidaktaatan manusia pertama, Adam, kepada Yehuwa ribuan tahun silam (Kejadian 3:17-19)]. Saya belum bisa mengikuti Sekolah Teokratis lantaran jadwal pekerjaan duniawi yang masih ruwet.

Saya masih dan sedang mengupayakan supaya bisa segera mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga nanti dapat mengikuti Sekolah Pelayanan Teokratis, menyusul istri saya yang sudah mulai resmi sekolah di Solo sejak Selasa, 15 April 2008 lalu. Tentu saja seraya saya senantiasa terus bersyukur, dan berdoa….